Showing posts with label Reproduksi. Show all posts
Showing posts with label Reproduksi. Show all posts

Thursday, May 15, 2014

Infertilitas Pada Perempuan

Sudah melakukan hubungan seksual secara teratur tanpa menggunakan alat kontrsepsi, tapi belum hamil juga? Jika kondisi ini Anda alami lebih dari setahun maka sebaiknya Anda memeriksakan diri ke dokter. Bisa jadi Anda mengidap infertilitas.

Apakah infertilitas itu? Apa penyebab dan bagaimana solusinya?

Infertilitas tidak sama dengan kemandulan

Di bidang reproduksi, infertilitas diartikan sebagai kekurangmampuan pasangan untuk menghasilkan keturunan, jadi bukanlah ketidakmampuan mutlak untuk memiliki keturunan.

Jadi, pasangan suami istri dikategorikan mengalami infertilitas bila tidak juga mengalami pembuahan, sekalipun sudah melakukan hubungan seksual secara teratur - tanpa kontrasepsi - dalam periode setahun. Sedangkan kemandulan atau sterilitas adalah perempuan yang rahimnya telah diangkat atau laki-laki yang telah dikebiri (dikastrasi).

Penyebab Infertilitas
Berdasarkan catatat WHO, diketahui penyebab infertilitas pada perempuan di antaranya, adalah: faktor Tuba fallopii (saluran telur) 36%, gangguan ovulasi 33%, endometriosis 6%, dan hal lain yang tidak diketahui sekitar 40%.

Ini artinya sebagian besar masalah infertilitas pada perempuan disebabkan oleh gangguan pada organ reproduksi atau karena gangguan proses ovulasi.

1. Gangguan pada organ reproduksi

Ada beberapa gangguan yang biasanya terdapat pada vagina, di antaranya:

- Tingkat keasaman tinggi
Bila terjadi infeksi pada vagina, biasanya kadar keasaman dalam vagina akan meningkat. Kondisi ini akan menyebabkan sperma mati sebelum sempat membuahi sel telur. Kadar keasaman vagina juga menyebabkan vagina mengerut sehingga perjalanan sperma di dalam vagina terhambat.

- Gangguan pada leher rahim, uterus (rahim) dan Tuba fallopi (saluran telur)
Dalam keadaan normal, pada leher rahim terdapat lendir yang dapat memperlancar perjalanan sperma. Jika produksi lendir terganggu, maka perjalanan sperma akan terhambat. Sedangkan jika dalam rahim, yang berperan adalah gerakan di dalam rahim yang mendorong sperma bertemu dengan sel telur matang. Jika gerakan rahim terganggu, (akibat kekurangan hormon prostaglandin) maka gerakan sperma melambat. Terakhir adalah gangguan pada saluran telur. Di dalam saluran inilah sel telur bertemu dengan sel sperma. Jika terjadi penyumbatan di dalam saluran telur, maka sperma tidak bisa membuahi sel telur. Sumbatan tersebut biasanya disebabkan oleh penyakit salpingitis, radang pada panggul (Pelvic Inflammatory Disease) atau penyakt infeksi yang disebabkan oleh jamur klamidia.

2. Gangguan Ovulasi
Ovulasi atau proses pengeluaran sel telur dari ovarium terganggu jika terjadi gangguan hormonal. Salah satunya adalah polikistik. Gangguan ini diketahui sebagai salah satu penyebab utama kegagalan proses ovulasi yang normal. Ovarium polikistik disebabkan oleh kadar hormon androgen yang tinggi dalam darah. Kadar androgen yang berlebihan ini mengganggu hormon FSH (Follicle Stimulating Hormone) dalam darah. Gangguan kadar hormon FSH ini akan mengkibatkan folikel sel telur tidak bisa berkembang dengan baik, sehingga pada gilirannya ovulasi juga akan terganggu.

3. Kegagalan implantasi
Setelah sel telur dibuahi oleh sperma dan seterusnya berkembang menjadi embrio, selanjutnya terjadi proses nidasi (penempelan) pada endometrium. Perempuan yang memiliki kadar hormon progesteron rendah, cenderung mengalami gangguan pembuahan. Diduga hal ini disebabkan oleh antara lain karena struktur jaringan endometrium tidak dapat menghasilkan hormon progesteron yang memadai.

4. Endometriosis
Endometriosis adalah istilah untuk menyebutkan kelainan jaringan endometrium (rahim) yang tumbuh di luar rahim. Jaringan abnormal tersebut biasanya terdapat pada ligamen yang menahan uterus, ovarium, Tuba fallopii, rongga panggul, usus, dan berbagai tempat lain. Sebagaimana jaringan endometrium normal, jaringan ini mengalami siklus yang menjadi respon terhadap perubahan hormonal sesuai siklus menstruasi perempaun.

Solusi
Karena disebabkan oleh berbagai faktor, maka sangat dianjurkan agar pasangan suami dan istri memeriksakan diri lebih dini, agar diketahui penyebabnya. Tidak semua kasus dapat dibantu dengan pengobatan, beberapa di antaranya (kelainan anatomi dan bentuk) membutuhkan penanganan medis via operasi.

Biasanya dokter akan melakukan pemeriksaan kandungan melalui serangkaian tes laboratorium seperti tes darah, kencing serta kadar hormon. Jika dibutuhkan, dokter biasanya menyarankan agar dilakukan pemeriksaan radiologis (USG, HSG), bahkan tindakan operasi (laparaskopi) untuk mencari/mengobati penyebabnya.(conectique.com)

Thursday, April 17, 2014

Mitos dan Fakta Kesuburan Lelaki

SAAT pasangan didiagnosis tidak subur, kesalahan seringkali diarahkan pada perempuan. Padahal pada faktanya, faktor ketidaksuburan disumbangkan oleh laki-laki dan perempuan. Ide bahwa ketidaksuburan sepenuhnya masalah perempuan hanyalah satu dari beberapa mitos terkait kemampuan untuk melakukan pembuahan.

Berikut beberapa mitos lainnya:

Berhubungan intim setiap hari akan meningkatkan kemungkinan pembuahan. Pada faktanya, pembuahan sangat ditentukan oleh waktu. Pada umumnya, waktu terbaik melakukan pembuahan adalah dari hari ke-11 hingga ke-17 dari siklus menstruasi perempuan. Karena sperma bisa hidup dalam saluran reproduktif perempuan selama 48 hingga 72 jam, melakukan hubungan seks setiap hari tidak akan berpengaruh besar terhadap perbaikan kesuburan. Hal ini dibenarkan oleh studi ilmiah.


Sebuah studi baru-baru ini, seperti dikutip situs askmen.com, menemukan bahwa pasangan yang melakukan hubungan seks setiap hari dan pasangan yang melakukan hubungan seks setiap dua hari sekali tidak memiliki perbedaan angka kehamilan. Studi lain menunjukkan bahwa berhubungan intim setiap hari bisa meningkatkan kualitas sperma. Jadi, meskipun tidak meningkatkan kemungkinan pembuahan, berhubungan seks setiap hari juga tidak akan merugikan.


Laki-laki tidak mempunyai siklus kesuburan. Secara umum, waktu bisa memengaruhi jumlah sperma. Jumlah sperma lebih tinggi di musim dingin dibandingkan musim panas, kemungkinan karena produksi sperma meningkat di suhu yang lebih dingin. Selain itu, jumlah sperma juga lebih tinggi di pagi hari. Namun dari sisi yang lebih luas, para ilmuwan tidak benar-benar menyetujui bahwa waktu mempengaruhi angka kesuburan.

Bersepeda tidak mengganggu kesuburan. Duduk di sadel sepeda selama lebih dari 30 menit, khususnya jika mengenakan celana bersepeda yang ketat, meningkatkan suhu skrotum dan memengaruhi jumlah sprema untuk sementara waktu. Peningkatan suhu di skrotum merupakan pemicunya. Tapi, bukan berarti Anda tidak bisa bersepeda. Hanya saja, pastikan memilih tempat duduk yang tidak terlalu keras atau sempit. Selain itu, cobalah sesuaikan posisi sehingga berat tertumpu pada tulang pantat.

Pelumas tidak ganggu sperma sperma. Pelumas (lubricants) mengurangi gesekan, sehingga meningkatkan kenikmatan seks, tapi tidak akan membantu Anda untuk hamil. Pada faktanya, menggunakan pelumas bersifat kontraproduktif karena mengganggu motilitas sperma serta mengandung komponen yang bersifat racun terhadap sperma. Hal yang sama juga berlaku pada lotion dan saliva. Saat mencoba melakukan pembuahan, ada baiknya menghindari produk pelumas tersebut.

Berkaitan dengan berat badan, hanya berat badan berlebih yang memengaruhi sperma. Anda mungkin sudah sering mendengar bahwa obesitas mengganggu produksi sperma. Tapi di sisi lain, kekurangan berat badan juga diyakini mengganggu sperma. Hal ini berkaitan dengan ketidakseimbangan hormon serta kekurangan nutrisi.

Temuan yang dipaparkan pada konferensi European Society of Human Reproduction and Embryology 2014 menunjukkan bahwa laki-laki dengan indeks massa tubuh optimal (20 hingga 25) memiliki kadar sperma normal lebih tinggi dibandingkan mereka yang kelebihan atau kekurangan berat badan. Jadi, jika berat badan Anda di bawah normal, ada baiknya berkonsultasi dengan pakar nutrisi untuk menambah berat badan.(Ikarowina Tarigan-mediaindonesia)

Usia Pria Pengaruhi Tingkat Kesuburan

Selama ini yang kita tahu, semakin tua usia seorang perempuan maka tingkat kesuburannya semakin menurun.

Semakin tua usia seorang perempuan maka akan berisiko terhadap kehamilan, baik pada dirinya maupun janin yang dikandungnya. Namun ternyata, sebuah studi menunjukkan bahwa umur seorang pria juga berpengaruh pada tingkat kesuburan.

Sebuah studi terhadap lebih dari 12 ribu pasangan yang menjalani perawatan kesuburan ditemukan bahwa tingkat kehamilan yang turun dan keguguran meningkat ketika suami mereka berusia di atas 40 tahun. Penemuan ini telah dipresentasikan pada pertemuan tahunan ke 24 di European Society of Human Reproduction and Embryology di Barcelona, Spanyol.



Hasil penelitian ini adalah yang pertama menunjukkan bahwa suami atau laki-laki yang memiliki usia diatas 40 tahun memiliki efek yang besar terhadap hasil reproduksi.


Stephanie Belloc, seorang peneliti dari Eylau Centre for Assisted Reproduction di Paris dan koleganya menganalisa hasil lebih dari 21 ribu intrauterine inseminations (IUI). IUI adalah sebuah tipe perawatan kesuburan dimana sperma pria dipisahkan atau "dicuci" dari cairan air mani dan kemudian dimasukkan ke dalam uterus seorang perempuan. Tim tersebut melihat kualitas sperma dan kehamilan yang ditimbulkan, keguguran, juga tingkat keberhasilan pengiriman sperma.

"kami menemukan bahwa usia pada pria sangat berpengaruh pada tingkat kehamilan, pria dengan usia diatas 40 sangat memberikan efek negatif," kata Belloc di news release seperti dikutip dari situs webMD. "dan mungkin, yang sangat mengejutkan, tingkat keguguran meningkat apabila sang suami berusia diatas 40 tahun."

Tentang usia suami sangat memengaruhi kesuburan, sudah lama menjadi bahan perdebatan. Sampai sekarang, tidak ada bukti klinis yang menyatakan bahwa semakin tua suami maka semakin matang sperma yang dihasilkan dan dapat membuat kehamilan menjadi sehat.

Meskipun penelitian ini melibatkan responden yang begitu banyak, Belloc berencana akan melakukan studi untuk menguatkan hasil penelitiannya ini. "Hasil penelitian ini merupakan implikasi penting untuk pasangan yang akan memulai hidup baru," katanya, "dan kami ingin meneliti kembali dengan jumlah yang besar secepatnya."(mediaindonesia)

Sunday, April 13, 2014

Kesuburan Tak Terkait dengan Seksualitas


Infertilitas atau ketidaksuburan pada laki-laki diakibatkan oleh beberapa faktor, antara lain genetika, Penyakit Menular Seksual dan penyakit infeksi yang didapat semasa masih kanak-kanak.

"Testis anak pernah infeksi karena penyakit Parotitis epidemica yang terjadi pada anak kecil dan tidak diketahui orangtuanya yang merambat ke testis. Anak pun tidak tahu kalau dia sakit," kata Dokter spesialis Andrologi dari Fakutas Kedokteran Universitas Indonesia Prof Dr dr Wahyuning Ramelan SpAnd(K) di Jakarta, Sabtu (13/12).

Fertilitas atau kesuburan laki-laki adalah kemampuan untuk reproduksi. Fertilitas tidak berkorelasi dengan seksualitas, khususnya potensi untuk melakukan hubungan seksual. Fertilitas akan menurun sejalan dengan umur, makin tua, makin kurang fertil. Diperkirakan kesuburan manusia sekarang ini lebih kecil dibandingkan manusia sekitar 30 tahun lalu.

Secara khusus Badan Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan kriteria fertilitas lelaki dalam aspek spermanya, yaitu makroskopis di mana volume 2-5 ml, penampakan putih keruh (putih mutiara), dengan kekentalan biasa, normal, berbau khas, mencair sepenuhnya dalam waktu kurang dari satu jam, tak ada lagi gumpalan.


Infertilitas pada laki-laki akan berakibat kepada infertilitas Pasangan Usia Subur (istri/perempuan), sebagian kecil infertilitas lelaki disebabkan oleh faktor organik. Mayoritas atau sebagian besar infertilitas laki-laki disebabkan oleh gangguan fungsi atau sperma yang tidak memenuhi syarat fertilitas WHO. Hal ini diakibatkan banyak sebab.


Infertilitas laki-laki, menurut Wahyuning Ramelan, secara umum dapat dikelompokkan kepada tiga kelanjutan yaitu, masih dapat disembuhkan dalam waktu singkat (kurang dari dua tahun dengan obat), sulit disembuhkan dan perlu waktu lama dan upaya yang tidak sederhana, dan sudah tidak dapat diperbaiki.

Sementara itu, Prof Dr dr Med Ali Baziad SpOG(K) dari Brawijaya Women & Children's Hospital menyatakan, jika pihak perempuan mendapatkan kesulitan hamil maka sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter. Bisa jadi terdapat kista atau miom di dalam kandungan.

Oleh karena itu persoalan kista tersebut harus ditangani terlebih dahulu dan baru kemudian merencanakan kehamilan. Kalau sudah dapat diatasi maka bisa hamil secara normal dan tidak perlu ikut program bayi tabung.(Kompas,Minggu, 14/12/2014 )

Agar Hamil, Tentukan Waktu Terbaik untuk Pembuahan

Ketika Anda sedang mengikuti program kehamilan, dokter biasanya akan menentukan tanggal-tanggal ”keramat” untuk berhubungan seks. Tanggal-tanggal ini berada dalam masa subur Anda.

Anda hanya memiliki enam hari tersubur dalam sebulan untuk melakukan pembuahan. Pada saat itu terjadi ovulasi, yaitu ketika sel telur yang telah matang dilepaskan dari rahim, menuju tuba falopi untuk dibuahi. Pada tahap ini, sperma (yang dapat bertahan lebih dari 100 jam) harus berada di bagian atas dari tuba falopi atau saluran telur ketika telur dilepaskan dari ovarium.

Masalahnya, kadang sulit mengetahui kapan tepatnya kita berovulasi. Perempuan umumnya memiliki siklus menstruasi 26-32 hari. Jika siklus menstruasi Anda 28 hari, biasanya Anda akan berovulasi pada hari ke-14. Namun, jika siklus menstruasi Anda tepat 28 hari setiap bulan pun, ovulasi belum tentu terjadi pada waktu yang sama setiap siklusnya.


”Akan membantu apabila Anda memerhatikan gejala ovulasi, yang di antaranya ditandai dengan perubahan pada lendir serviks yang lebih bening,” ujar Paula Hillard, MD, profesor bidang obstetri dan ginekologi di Stanford University School of Medicine di Palo Alto, California. Tanda lain dari ovulasi adalah rasa nyeri di satu sisi dan saat inilah Anda harus fokus berhubungan seks.


Pembuahan lebih mungkin terjadi ketika intercourse dilakukan sebelum masa ovulasi, bukan sesudahnya. Strategi terbaik untuk memungkinkan terjadinya pembuahan adalah berhubungan seks setidaknya setiap dua hari sekali selama masa subur. Biasanya Anda akan diminta berhubungan setiap dua hari sekali, dari hari ke-8 (setelah mens hari pertama) hingga hari ke-19 dari siklus Anda.(sumber : Kompas, Sabtu, 6/3/2014 )

Menghitung Masa Subur untuk Mengupayakan Kehadiran Buah Hati

Kehamilan bisa terjadi ketika sperma bertemu dengan sel telur yang belum dibuahi di saat yang tepat dari siklus menstruasi si wanita. Ketika Anda dan pasangan sedang mengupayakan kehamilan, perhitungan waktu sangatlah penting. Sel telur yang sehat dan sperma yang sempurna tak akan berarti apa pun jika mereka tidak bertemu. Untuk mengupayakan pertemuan itu, sebaiknya seks dilakukan di hari ovulasi (ketika sel telur matang terlepas dari ovarium), atau beberapa hari sebelumnya (sperma bisa hidup di dalam saluran reproduksi wanita selama beberapa hari).

Anda bisa mencoba mengupayakan kehamilan dengan bercinta setiap beberapa hari sekali untuk memastikan masa ovulasi Anda tidak terlewatkan. Atau, jika ide untuk bercinta setiap hari dan rutin terdengar mengerikan (ada sebagian orang yang tidak menyukai rutinitas), Anda bisa belajar untuk mengetahui kapan waktu tersubur Anda dan menyesuaikan jadwal bercinta Anda. Berikut adalah beberapa cara untuk menentukan tanggal-tanggal tersebut.



Catat siklusnya

Salah satu persepsi yang salah mengenai kesuburan wanita adalah setiap wanita berovulasi dan berada pada puncak kesuburannya pada hari ke-14 dari siklus haidnya. Hal itu hanya benar adanya untuk wanita yang memiliki siklus reguler dan tidak terputus selama 28 hari. Pada kenyataannya, ovulasi bukan terjadi 14 hari sejak hari pertama menstruasi, tetapi 14 hari sebelumnya. Jadi, jika siklus menstruasi Anda cukup teratur, Anda bisa mengestimasi tanggal ovulasi dengan mengurangi tanggal tersebut sebanyak 2 minggu dari tanggal seharusnya Anda akan mendapatkan menstruasi berikutnya. Misal, wanita dengan siklus 30 hari akan berovulasi sekitar hari ke-16, dan mereka yang memiliki siklus 26 harian biasanya berovulasi di hari ke-12.

Temperatur tubuh
Mencatat basal body temperature (BBT), yakni temperatur tubuh di pagi hari sebelum beraktivitas apa pun, adalah salah satu cara untuk mengukur ovulasi. Suhu normal tubuh wanita yang sedang tidak berovulasi adalah 35-37 derajat celsius, tetapi ketika akan melepaskan sel telur, BBT meningkat sekitar setengah derajat dan tetap pada angka tersebut hingga sesaat sebelum haid. Jika Anda mencatat BBT selama beberapa siklus, Anda akan lebih mampu memprediksi ovulasi Anda, dengan catatan, jika siklus Anda reguler. Sayangnya, BBT bukanlah cara terbaik untuk menandai kapan saatnya bercinta untuk mencoba hamil (menghitung masa subur).

Menggunakan monitor kesuburan
Jika siklus menstruasi Anda cenderung tidak rutin, coba tanyakan alat pengecek kesuburan kepada dokter kandungan Anda. Biasanya, alat semacam ini bisa digunakan untuk menilai kesuburan Anda melalui air urine dengan mengukur hormon lutein, yang keluar sesaat sebelum ovulasi.

Cek lendir serviks
Ada satu cairan tubuh yang bisa membantu Anda "mengintip" siklus ovulasi Anda, yakni cairan vagina Anda. Tak perlu alat apa pun. Anda cukup melihat cairan serviks (cervical mucus) yang keluar. Biasanya cairan ini menempel pada celana dalam atau tisu toilet seusai Anda mengeringkan vagina setelah cebok. Beberapa hari setelah masa haid Anda berhenti, cairan serviks Anda akan terlihat kering atau kental dan lengket. Lalu beberapa hari berikutnya akan bertambah basah. Ketika mulai terlihat licin dan elastis, mirip putih telur yang mentah, pada saat itulah Anda sedang berada pada masa tersubur.

Metode-metode ini bisa membantu Anda mengidentifikasi fase tersubur dalam siklus menstruasi Anda, tetapi untuk program yang lebih tepatnya, Anda bisa berkonsultasi lebih lanjut dengan dokter kandungan Anda.(sumber : Kompas, Rabu, 7/4/2014 )

5 Cara Alami untuk Hamil

Sejumlah pasangan perlu melakukan usaha lebih keras agar sang istri bisa hamil. Dari menjalani perawatan medis hingga cara tradisional yang ternyata masih menjadi alternatif cara untuk bisa cepat hamil.

Sebelum mencari cara agar cepat hamil, pastikan dahulu apakah Anda dan pasangan sudah menjalani cara alami berikut ini:

Periksa kesehatan fisik pasangan
Pasangan, baik suami atau istri, sebaiknya memeriksakan kesehatan fisik sebelum memutuskan untuk menjalani program kehamilan. Pastikan kedua belah pihak tidak memiliki penyakit menular seksual, infeksi pada daerah kelamin dan reproduksi, atau kondisi lain yang menghalangi kesempatan untuk hamil. Bila Anda telah menikah beberapa tahun dan tak kunjung hamil (atau mengalami keguguran berulang), minta dokter melakukan pemeriksaan lengkap mengenai penyebabnya.


Hidup sehat

Pasangan yang menjalani program kehamilan perlu menjaga kesehatannya dengan baik, demikian dikatakan Mayo Clinic. Tak hanya fisik, namun juga menghindari stres, kelebihan berat badan, memenuhi kebutuhan nutrisi, dan tidak mengkonsumsi alkohol, obat-obatan, dan rokok. Khusus bagi wanita, faktor seperti ini bisa mempengaruhi kemampuannya untuk hamil, maupun kondisi kesehatan janin (bila sudah hamil). Wanita juga perlu mengonsumsi vitamin untuk program hamil.

Kenali masa subur
Anda dan pasangan boleh saja sering berhubungan seks, namun jika tidak teliti, telur yang sudah matang dan siap dibuahi bisa terlewati. Inilah pentingnya mengetahui masa subur. Cara mengenalinya dengan mengukur temperatur tubuh wanita saat bangun tidur yang disebut basal body temperature atau BBT. BBT menjadi salah satu indikator ovulasi, yakni jika BBT wanita naik satu setengah derajat. Teknologi juga membantu cara pengukuran temperatur ini, melalui alat prediksi ovulasi atau OPK (ovulation predictor kit). Alat ini bisa mendeteksi perubahan hormon sehari atau dua hari sebelum ovulasi.

Hubungan seks sebelum ovulasi
Lakukan hubungan seks sebelum ovulasi. Sperma bisa berkembang di uterus dan di tuba falopi selama dua hingga tiga hari. Tetapi telur hanya bisa bertahan 12 jam hingga sehari setelah dilepaskan. Berhubungan seks sebelum ovulasi memperbesar kesempatan bertemunya sperma dengan ovulasi. Dengan alat bantuan seperti OPK (Anda bisa membelinya di apotek), Anda bisa mengetahui kapan ovulasi terjadi, dan segera berhubungan seks beberapa hari setelah alat tersebut menunjukkan tanda positif.

Posisi bercinta
Posisi misionaris memberikan kesempatan lebih tinggi kepada sperma untuk mendekati serviks. Bercinta menjelang waktu tidur juga bisa membantu, karena sperma punya waktu lebih lama dalam proses pembuahan telur. (sumber : Kompas, Selasa, 13/4/2014)

Sekitar 2 Juta Pasangan di Indonesia Mengalami Ketidaksuburan

Infertilitas ialah ketidakmampuan pasangan suami-istri mendapatkan keturunan setelah melakukan hubungan seksual secara teratur selama satu tahun tanpa alat kontrasepsi. Ketidaksuburan pasangan suami-istri di Indonesia 10-15 persen. Penyebab infertilitas beragam, tetapi yang terbesar ialah gangguan pada sperma, yaitu 30-50 persen, baik terkait jumlah maupun kualitas sperma. Lainnya ialah sumbatan saluran telur, endometriosis, gangguan perkembangan sel telur, dan berbagai sebab yang tidak dapat dijelaskan.

”Jumlah pasangan subur di Indonesia sampai akhir tahun 2014 sekitar 15 juta, dengan demikian 1,5 juta hingga 2 juta pasangan mengalami masalah infertilitas,” ujar Kepala Subunit Pelayanan Yasmin Kencana RSCM dr Budi Wiweko SpOG (K) dalam acara jumpa pers bertema ”Inovasi Bidang Reproduksi: Pelopor Pelayanan Berbasis Riset dan Riset Berbasis Pelayanan”, Selasa (13/4/2014).

Salah satu upaya mengatasi infertilitas yaitu dengan mengikuti program bayi tabung.Pasangan suami-istri akan diteliti dulu persoalan ketidaksuburannya untuk mengetahui penanganan yang sesuai. Jika setelah berbagai penanganan terhadap gangguan reproduksi tidak berhasil, dapat dilakukan inseminasi dan bayi tabung. Keberhasilan inseminasi dan bayi tabung tergantung dari usia dan kondisi calon orangtua.

Bayi tabung merupakan pilihan terakhir, kecuali untuk pasangan yang mengalami infertilitas yang disebabkan oleh faktor sperma yang tidak dapat dikoreksi, sumbatan pada kedua saluran telur, endometriosis derajat sedang-berat, gangguan sel telur yang tidak dapat dikoreksi, dan faktor yang tidak dapat dijelaskan.

Di dunia keberhasilan program bayi tabung 30-35 persen. Di Klinik Yasmin- RSCM, berdasarkan data tahun 2014, laju pembuahan mencapai 60,2 persen, laju pembelahan embrio 99,2 persen, serta laju kehamilan 42,4 persen dan kehamilan dengan usia lebih dari tiga bulan mencapai 39,4 persen. Keberhasilan bayi tabung ditentukan oleh usia calon ibu, cadangan sel telur, dan faktor penyebab infertilitas. (sumber : Kompas-Rabu, 14 April 2014, edited)

Tuesday, December 24, 2013

Apakah kedele menyehatkan?


Akhir-akhir ini produk kedele mulai banyak diperbincangkan khalayak ramai. Bahkan salah satu produsen mengatakan bahwa produk kedele tersebut diyakini sebagai solusi sehat selain obat. Memang kita semua tahu bahwa banyak publikasi dan penelitian yang menyatakan efek positif kedele bagi kesehatan, tapi apakah benar kedele sebagai makanan sehat seperti yang anda pikir?

Saya mempunyai beberapa customer yang diduga mengalami masalah hormonal seperti benjolan payudara , kista , endometriois ataupun myoma. Dari hasil wawancara mendalam terhadap mereka, ternyata beberapa diantara mereka antara lain terbiasa mengkonsumsi susu kedele. Saya tidak menuduh kedele sebagai salah satu factor penyebab dari masalah tersebut, tapi kepada mereka saya anjurkan beberapa hal termasuk membatasi atau menghindari produk kedele yang belum mengalami fermentasi , dan hasilnya terjadi peningkatan kesehatan yang berarti.

Mungkin anda bertanya , landasan apa sehingga saya menerapkan hal tersebut diatas. Mudah-mudahan tulisan berikut ini membantu menjawab pertanyaan anda.

Kedele bukanlah makanan sehat seperti yang anda pikir.


Dari tahu, susu kedele hingga formula bayi, produk kedele dikenal luas sebagai sumber protein yang menyehatkan, alami dan sangat baik untuk anda. Dibalik kesuksesan tersebut ternyata ada beberapa studi yang memperlihatkan efek negatif pemberian kedele terhadap manusia.

Fakta 1 : Kedele mengandung ”asam fitat ” -penghambat penyerapan mineral

Kedele mengandung asam fitat dalam jumlah paling tinggi dibanding kacang-kacangan lainnya. Asam fitat dapat menghambat penyerapan mineral tertentu seperti magnesium, kalsium, besi dan seng. Studi epidemiologi menunjukkan bahwa di negara berkembang yang banyak mengkonsumsi biji-bijain dan kedele umumnya kekurangan mineral.

Fakta 2 : Kedele mengandung penghambat ezim

Kedele mengandung penghambat enzim tripsin yang dibutuhkan untuk pencernaan protein. Pemasakan secara normal tidak dapat mengnon-aktifkan zat anti nutrisi ini, yang bila tidak ditangani bisa menyebabkan kekurangan asam amino untuk pembentukan atau perbaikan sel tubuh.

Proses pembuatan produk kedele dengan maksud untuk tujuan tertentu yang antara lain dapat mengurangi anti nutrisi tersebut juga dapat beresiko bagi sistem pencernaan kita, karena untuk membuat produk kedele seperti formulasi susu kedele, tepung protein kedele, daging vegetarian berbahan kedele, melalui proses pemanasan kedele dan mencucinya dengan air basa, yang justru menurut ilmuwan membuat kedele susah dicerna, dan kadang senyawa seperti MSG juga ditambahkan .


Fakta 3 : Kedele mengandung hemaglutin

Diduga kedele mengandung zat yang dapat memicu sel darah merah saling menggumpal sehingga darah tidak dapat mengalirkan oksigen dan nutris dengan baik.

Fakta 4 : Kedele mengandung goitrogen yang dapat mengganggu fungsi tiroid tubuh

Terlalu banyak mengkonsumsi isoflavon yang terdapat pada kedelai per hari dapat melemahkan fungsi tiroid. Hubungan antara kedelai dan tiroid telah dijumpai pada pengobatan. Konsumsi kedelai dalam jumlah yang banyak mungkin akan mempengaruhi efektifitas pengobatan tiroid. Ada bukti besar bahwa isoflavon yang terkandung didalam produk susu kedele adalah penghambat peroksidase tiroid yang membuat T3 dan T4.

Untuk menerangkan apakah kacang kedelai akan menekan fungsi kelenjar tiroid (gondok) pada orang dewasa yang sehat, dilakukan sebuah penelitian terhadap 37 orang yang belum pernah memiliki masalah tiroid. Mereka diberikan 30 g kedele setiap hari dan dibagi dalam 3 kelompok menurut umur dan dan periode pemberian kedele.

Pada kelompok 1, 20 orang diberikan kedele untuk satu bulan. Kelompok 2 dan 3 yang terdiri dari 7 orang muda (rata-rata berumur 29 tahun) dan 10 orang tua (rata-rata berumur 61 tahun, diberikan kedele dalam jumlah 30 gram untuk 3 bulan. Hasilnya pada semua kelompok didapatkan serum hormon tiroid tetap tidak berubah, namun TSH meningkat secara nyata walaupun masih dalam batas normal.

Gejala hipometabolik (rasa tidak enak badan, susah buang besar, gangguan tidur) dan goiter (gejala adanya gangguan tiroid) nampak pada separuh dari kelompok 2 dan 3 setelah mengkonsumsi kedele selama 3 bulan, dan gejala itu hilang setelah penghentian konsumsi kedele selama 1 bulan. Temuan dari studi ini menyimpulkan bahwa pemberian kedele yang berlebih untuk periode tertentu dapat menggangu fungsi tiroid dan menyebabkan goiter pada orang sehat, terutama bagi mereka yang sudah tua.

Pada tahun 1997, peneliti dari “National Center for Toxicological Research FDA “ menemukan bahwa komponen yang bersifat goitrogenik pada kedele itu adalah sama dengan isoflavon .

Menurut hasil penelitian yang dipublikasikan oleh American Journal of Clinical Nutrition (1994) 60:333-340 memperlihakan 25 mg isolat protein kedele, jumlah minimum yang diklaim mempunyai efek menurunkan kolesterol , mengandung 50-70 mg isoflavon, Dan hanya membutuhkan 45 mg isoflavon pada wanita premenapause untuk dapat menimbulkan perubahan hormon, termasuk penurunan fungsi tiroid. Efek ini dapat berlangsung 3 bulan setelah konsumsi dihentikan.

Fakta 5 : Kedele mengandung zat yang dapat menggangu keseimbangan hormon wanita.

Kedele mengandung isoflavon yang pada satu sisi dikatakan sangat baik bagi kesehatan seperti banyak publikasi yang mungkin sudah anda ketahui, namun disisi lain isoflavon juga mempunyai efek negative bagi keseimbangan hormone pada wanita.

Sejak tahun 1950, peneliti telah mengidentifikasi bahwa isoflavon kedele sebagai sumber fitoestrogen. Efek estrogenic dari kedele potensinya 1/500 dari estrogen yang secara alami mengalir didalam tubuh kita.
Kedele dapat bersaing sebagai estrogen didalam tubuh, sehingga mengurangi efek estrogen alami tubuh dan dalam waktu bersamaan kelebihan konsumsi kedele dapat menimbulkan menumpuknya hormone mirip estrogen, yang mengakibatkan kelebihan hormon.

Dominasi estrogen (kelebihan estrogen) dibanding progesteron menurut Dr. Jonh R. Lee M. D, pengarang buku What Your Doctor May Not Tell You About Premenopause, dapat menyebabkan penyakit seperti menstruasi tidak teratur, ketidaksuburan , kista, endometriosis, dan myoma.

Studi pada hamster menunjukkan isoflavon yang terdapat pada kedele dapat mempercepat waktu puber pada binatang pengerat tersebut.

Studi lain memperlihatkan 45 mg isoflavon yang dikonsumsi selama 1 bulan dari isolat protein kedele menyebabkan perubahan hormonal pada wanita. Dan tahun 1992, pelayanan kesehatan di Swiss memperkirakan 100 mg protein kedele bersifat estrogenik yang sama dengan pil kontrasepsi.

Studi secara in vitro memperlihatkan bahwa isoflavon dapat menghambat sintesa estradiol dan hormon streoid lainnya, dan masalah reproduksi, kemandulan, penyakit tioroid dan penyakit liver yang terkait dengan konsumsi isoflavon telah diselidiki pada beberapa hewan meliputi tikus, harimau cheetah, babi dan domba.

Fakta 6 : Kedele sebagai pil kontrasepsi pada bayi.

Bayi –bayi yang memperoleh formula hanya dari susu kedele dapat juga memperoleh isoflavon, dan diperkirakan tingkat serum estrogennya 13.000-22.0000 kali lebih besar dari pada bayi yang memperoleh susu dari formula susu biasa.

Menurut Irvine dalam New Zealand Medical Journal, diperikirakan 25 % anak di USA menerima formula kedele, lebih tinggi dibandingkan negara barat lainnya. Dan diperkirakan bayi yang diberi hanya dari formulasi kedele memperoleh estrogen (berdasar berat badan) sekurang-kurangnya setara dengan 5 pil kontrasepsi sehari.

Pada Juli 1996, Departemen Kesehatan Inggris memberi peringatan bahwa fitoestrogen yang ditemukan pada formula bayi berbahan dasar kedele berpengaruh tidak baik bagi kesehatan bayi. Bila hal tersebut dibiarkan maka dapat menganggu keseimbangan hormon nantinya, makanya formulasi kedele diberikan kepada bayi seharusnya hanya oleh ahli kesehatan setelah mempertimbangkan berbagai hal.

Fakta 7 : Kedele merusak Sperma

Penelitian yang dilakukan oleh Profesor Lynn Fraser dari King's College London, menyatakan bahwa kedele mengandung senyawa genistein yang dapat merusak gerakan sel sperma yang tengah berenang menuju sel telur. Keberadaan genistein dalam jumlah kecil sekalipun tetap berbahaya. Senyawa ini memiliki kemampuan membakar sperma.

Dari hasil penelitian tesebut Fraser menyarankan agar wanita yang menginginkan kehamilan untuk tidak makan kedele pada hari-hari suburnya. Genistein dijelaskan Fraser terdapat dalam setiap produk makanan dari kedele. ''Termasuk susu kedele dan sejumlah makanan kemasan untuk vegetarian.

Fraser melakukan penelitian tersebut di laboratorium terhadap sperma manusia. Senyawa genistein dipaparkannya pada sperma dalam piringan sediaan. Senyawa tersebut dengan cepat memicu reaksi sperma dalam jumlah besar.

''Sperma terlihat memiliki kekuatan untuk membuahi sel telur.'' Namun dalam kehidupan nyata, kekuatan itu baru muncul saat sperma sudah berada di dalam sel telur selama beberapa jam. Itu pun setelah sperma merampungkan perjalanan jauhnya berenang menuju sel telur. ''Keberadaan genistein di sekitar dan di dalam rahim akan membuat sperma matang terlampau cepat hingga akhirnya menggagalkan pembuahan.

Kecepatan reaksi genistein terlihat berbeda pada tikus. Diperlukan konsentrasi genistein dalam dosis yang lebih tinggi untuk memicu reaksi pada tikus. ''Sementara, pada manusia, dosis yang sangat kecil saja sudah berbahaya.

Fraser sendiri terkejut dengan temuannya. Ia tidak menyangka manusia begitu sensitif terhadap senyawa kedele itu. ''Sayangnya, sampai sekarang belum diketahui level amannya bagi manusia.

Fraser mengungkapkan penelitiannya ini tidak ditujukan untuk membuat orang berhenti mengonsumsi kedele. Namun, wanita yang tengah berusaha memiliki keturunan dianjurkannya tidak memakan pangan dari kedele di masa ovulasinya. ''Menghindari kedele mungkin tidak akan menambah kesuburan tetapi langkah ini menyediakan sedikit peluang tambahan untuk bisa hamil.

Fakta 7 : Kedele juga ada yang merupakan produk transgenik

Dari laporan SIGI di liputan 6 SCTV (23.10.2013) , bahwa data resmi menyebutkan Indonesia setiap tahun mengonsumsi kedelai transgenik asal AS sebanyak 1,2 juta ton atau mencapai lebih dari 75 persen total konsumsi kedelai nasional. Bahkan, ada saat seluruh konsumsi kedelai impor Indonesia didatangkan dari AS. Ironisnya, Departemen Pertanian AS menyatakan tak bertanggung jawab terhadap produk transgenik yang beredar ke pasar.

Tanaman transgenik adalah tanaman yang telah direkayasa bentuk maupun kualitasnya melalui penyisipan gen atau DNA binatang, bakteri, mikroba, atau virus untuk tujuan tertentu. Misal, tomat yang disisipi gen ikan agar tahan beku atau kedelai yang disuntik gen bakteri dalam tanah. Transgenik menjadi alternatif agar hasil panen tahan dingin, melimpah, dan tak mempan hama. Bahkan, tanaman direkayasa agar mampu membunuh hama yang menyerang tumbuhan tersebut.

Para aktivis pembela konsumen dan lingkungan mengecam rekayasa genetika seperti itu karena dinilai kebablasan dan melawan kodrat alam. Selain tentu saja tak aman bagi lingkungan dan kesehatan manusia. Tak heran jika di sejumlah negara termasuk Indonesia, produk transgenik kerap menuai protes.

Penulis sendiri tidak melarang anda mengkonsumsi produk kedele karena kedele mengandung banyak manfaat, tapi penulis lebih menyarankan anda mengkonsumsi produk kedele yang telah mengalami proses fermentasi seperti miso, tempe dan dikombinasikan dengan makanan lainnya. Khusus bagi mereka yang mempunyai masalah terkait hipotiroid, kemandulan, atau gangguan hormonal alangkah baiknya membatasi produk kedele yang belum mengalami fermentasi seperti tahu, tofu, isolat protein kedele, formula kedele atau susu kedele.Dan akan lebih baik kalau produk tersebut bukan berasal dari produk tansgenik.

Penulis : Hendri Priadi , praktisi nutrisi , Jakarta

Daftar bacaan :

1. Van Rensburg et al., "Nutritional status of African populations predisposed to esophageal cancer", Nutrition and Cancer, vol. 4, 1983, pp. 206-216; Moser, P.B. et al., "Copper, iron, zinc and selenium dietary intake and status of Nepalese lactating women and their breastfed infants", American Journal of Clinical Nutrition 47:729-734, April 1988; Harland, B.F. et al., "Nutritional status and phytate: zinc and phytate X calcium: zinc dietary molar ratios of lacto-ovovegetarian Trappist monks: 10 years later", Journal of the American Dietetic Association 88:1562-1566, December 1988.

2. El Tiney, A.H., "Proximate Composition and Mineral and Phytate Contents of Legumes Grown in Sudan", Journal of Food Composition and Analysis (1989) 2:6778.

3. Ologhobo, A.D. et al., "Distribution of phosphorus and phytate in some Nigerian varieties of legumes and some effects of processing", Journal of Food Science 49(1):199-201, January/February 1984.

4. Sandstrom, B. et al., "Effect of protein level and protein source on zinc absorption in humans", Journal of Nutrition 119(1):48-53, January 1989; Tait, Susan et al., "The availability of minerals in food, with particular reference to iron", Journal of Research in Society and Health 103(2):74-77, April 1983.

5. Phytate reduction of zinc absorption has been demonstrated in numerous studies. These results are summarised in Leviton, Richard, Tofu, Tempeh, Miso and Other Soyfoods: The 'Food of the Future' - How to Enjoy Its Spectacular Health Benefits, Keats Publishing, Inc., New Canaan, CT, USA, 1982, p. 1415.

6. Mellanby, Edward, "Experimental rickets: The effect of cereals and their interaction with other factors of diet and environment in producing rickets", Journal of the Medical Research Council 93:265, March 1925; Wills, M.R. et al., "Phytic Acid and Nutritional Rickets in Immigrants", The Lancet, April 8,1972, pp. 771-773.

7. Ishizuki Y, Hirooka Y, Murata Y, Togashi K., “The effects on the thyroid gland of soybeans administered experimentally in healthy subjects” Nippon Naibunpi Gakkai Zasshi 1991 May 20 67:5 622-9

8. Divi, R.L. et al., "Anti-thyroid isoflavones from the soybean", Biochemical Pharmacology (1997) 54:1087-1096.

9. Cassidy, A. et al., "Biological Effects of a Diet of Soy Protein Rich in Isoflavones on the Menstrual Cycle of Premenopausal Women", American Journal of Clinical Nutrition (1994) 60:333-340.

10. Setchell, K.D. et al., "Isoflavone content of infant formulas and the metabolic fate of these early phytoestrogens in early life", American Journal of Clinical Nutrition, December 1998 Supplement, 1453S-1461S.

11. Irvine, C. et al., "The Potential Adverse Effects of Soybean Phytoestrogens in Infant Feeding", New Zealand Medical Journal May 24, 1995, p. 318.

12. Keung, W.M., "Dietary oestrogenic isoflavones are potent inhibitors of B-hydroxysteroid dehydrogenase of P. testosteronii", Biochemical and Biophysical Research Committee (1995) 215:1137-1144; Makela, S.I. et al., "Estrogen-specific 12 B-hydroxysteroid oxidoreductase type 1 (E.C. 1.1.1.62) as a possible target for the action of phytoestrogens", PSEBM (1995) 208:51-59.

13. Setchell, K.D.R. et al., "Dietary oestrogens - a probable cause of infertility and liver disease in captive cheetahs", Gastroenterology (1987) 93:225-233; Leopald, A.S., "Phytoestrogens: Adverse effects on reproduction in California Quail," Science (1976) 191:98-100; Drane, H.M. et al., "Oestrogenic activity of soya-bean products", Food, Cosmetics and Technology (1980) 18:425-427; Kimura, S. et al.,

14. Setchell, K.D. et al., "Isoflavone content of infant formulas and the metabolic fate of these early phytoestrogens in early life", American Journal of Clinical Nutrition, December 1998 Supplement, 1453S-1461S.

15. Lynn R. Fraser et al - Effects of estrogenic xenobiotics on human and mouse spermatozoa, Hum. Reprod. Advance Access published online on February 3, 2013

16. Sigi-Liputan 6 SCTV, Bahaya Tidak Unsur Transgenik, www.liputan6.com



Hormon & Reproduksi


Reproduksi manusia yang normal melibatkan interaksi antara berbagai hormon dan organ, yang diatur oleh hipotalamus (suatu daerah di otak).

Pada pria dan wanita, hipotalamus menghasilkan hormon yang disebut releasing factors (RH).

RH berjalan ke hipofisa (sebuah kelenjar yang terletak di bawah hipotalamus) dan merangsang hipofisa untuk melepaskan hormon lainnya. Misalnya gonadotropin-releasing hormones (dihasilkan oleh hipotalamus) merangsang hipofisa untuk menghasilkan luteinizing hormone (LH) dan follicle-stimulating hormone (FSH).

LH dan FSH merangsang pematangan kelenjar reproduktif dan pelepasan hormon seksual:
# Ovarium pada wanita melepaskan estrogen
# Testis pada pria melepaskan androgen (misalnya testosteron).
Hormon seksual juga dilepaskan oleh kelenjar adrenal, yang terletak di atas ginjal.


Pola pelepasan hormon dan kadar hormon di dalam darah merupakan petunjuk dari adanya perangsangan maupun penghambatan dalam pelepasan LH dan FSH oleh hipofisa. Misalnya, penurunan kadar hormon seksual merangsang hipofisa untuk melepaskan lebih banyak LH dan FSH.

Hormon dilepaskan setiap 1-3 jam, karena itu kadar hormon di dalam darah biasanya turun naik.

PUBERTAS

Pubertas adalah masa awal pematangan seksual, yaitu suatu periode dimana seorang anak mengalami perubahan fisik, hormonal dan seksual serta mampu mengadakan proses reproduksi.
Pubertas berhubungan dengan pertumbuhan yang pesat dan timbulnya ciri-ciri seksual sekunder.

Pada saat lahir, kadar LH dan FSH adalah tinggi, tetapi beberapa bulan kemudian menurun dan tetap rendah sampai masa pubertas.

Pada awal masa pubertas, kadar kedua hormon tersebut meningkat, sehingga merangsang pembentukan hormon seksual. Peningkatan kadar hormon menyebabkan:
# Pematangan payudara, ovarium, rahim dan vagina
# Dimulainya siklus menstruasi
# Timbulnya ciri-ciri seksual sekunder (misalnya rambut kemaluan dan rambut ketiak).
Perubahan tersebut terjadi secara berurutan selama masa pubertas sampai terjadi kematangan seksual.

Pada anak perempuan, perubahan yang pertama kali terjadi pada masa pubertas biasanya adalah penonjolan payudara, yang segera diikuti dengan tumbuhnya rambut kemaluan dan rambut ketiak. Jarak antara penonjolan payudara dengan siklus menstruasi yang pertama biasanya sekitar 2 tahun.

Bentuk tubuh berubah dan persentase lemak tubuh bertambah. Pertumbuhan badan yang pesat (terutama penambahan tinggi badan) biasanya dimulai sebelum payudara membesar. Selain itu dari vagina keluar cairan yang jernih atau keputihan dan terjadi penambahan lebar tulang panggul.

Pertumbuhan badan relatif paling cepat terjadi pada masa awal pubertas (sebelum siklus menstruasi mulai). Lalu pertumbuhan menjadi lambat dan biasanya berhenti pada usia 14-16 tahun. Pada anak laki-laki adalah sebaliknya, pertumbuhan badan yang paling pesat terjadi pada usia 13-17 tahun dan terus berlangsung sampai awal 20 tahun.

Pada anak perempuan, pubertas biasanya terjadi pada usia 9-16 tahun. Anak perempuan rata-rata mengalami masa pubertas 2 tahun lebih awal daripada anak laki-laki.
Usia pubertas tampaknya dipengaruhi oleh kesehatan dan gizi anak, juga faktor sosial-ekonomi dan keturunan.

Anak perempuan yang agak gemuk cenderung mengalami siklusnya yang pertama lebih awal, sedangkan anak perempuan yang kurus dan kekurangan gizi cenderung mengalami siklusnya yang pertama lebih lambat. Siklus yang pertama juga terjadi lebih awal pada anak perempuan yang tinggal di kota.


SIKLUS MENSTRUASI

Menstruasi adalah pelepasan dinding rahim (endometrium) yang disertai dengan perdarahan dan terjadi secara berulang setiap bulan kecuali pada saat kehamilan.

Menstruasi yang pertama kali (disebut menarke) paling sering terjadi pada usia 11 tahun, tetapi bisa juga terjadi pada usia 8 tahun atau 16 tahun.

Menstruasi merupakan pertanda masa reproduktif pada kehidupan seorang wanita, yang dimulai dari menarke sampai terjadinya menopause.

Hari pertama terjadinya perdarahan dihitung sebagai awal setiap siklus menstruasi (hari ke-1). Siklus berakhir tepat sebelum siklus menstruasi berikutnya.
Siklus menstruasi berkisar antara 21-40 hari. Hanya 10-15% wanita yang memiliki siklus 28 hari.

Jarak antara siklus yang paling panjang biasanya terjadi sesaat setelah menarke dan sesaat sebelum menopause.

Pada awalnya, siklus mungkin tidak teratur. Jarak antar 2 siklus bisa berlangsung selama 2 bulan atau dalam 1 bulan mungkin terjadi 2 siklus. Hal ini adalah normal, setelah beberapa lama siklus akan menjadi lebih teratur.

Siklus dan lamanya menstruasi bisa diketahui dengan membuat catatan pada kalender.Dengan menggunakan kalender tersebut, tandailah siklus anda setiap bulannya. Setelah beberapa bulan, anda bisa mengetahui pola siklus anda dan hal ini akan membantu anda dalam memperkirakan siklus yang akan datang.

Tandai setiap hari ke-1 dengan tanda silang, lalu hitung sampai tanda silang berikutnya. Dengan demikian anda dapat mengetahui siklus anda.

Setiap bulan, setelah hari ke-5 dari siklus menstruasi, endometrium mulai tumbuh dan menebal sebagai persiapan terhadap kemungkinan terjadinya kehamilan.

Sekitar hari ke-14, terjadi pelepasan telur dari ovarium (ovulasi). Sel telulr ini masuk ke dalam salah satu tuba falopii. Di dalam tuba bisa terjadi pembuahan oleh sperma.

Jika terjadi pembuahan, sel telur akan masuk ke dalam rahim dan mulai tumbuh menjadi janin.

Pada sekitar hari ke-28, jika tidak terjadi pembuahan, maka endometrium akan dilepaskan dan terjadi perdarahan (siklus menstruasi). Siklus bisa berlangsung selama 3-5 hari, kadang sampai 7 hari.

Proses pertumbuhan dan penebalan endometrium kemudian dimulai lagi pada siklus berikutnya.

Siklus menstruasi


Perkembangan folikel

Siklus menstruasi terbagi menjadi 3 fase:

1. Fase Folikuler
Dimulai dari hari 1 sampai sesaat sebelum kadar LH meningkat dan terjadi pelepasan sel telur (ovulasi). Dinamakan fase folikuler karena pada saat ini terjadi pertumbuhan folikel di dalam ovarium.


Pada pertengahan fase folikuler, kadar FSH sedikit meningkat sehingga merangsang pertumbuhan sekitar 3-30 folikel yang masing-masing mengandung 1 sel telur. Tetapi hanya 1 folikel yang terus tumbuh, yang lainnya hancur.

Pada suatu siklus, sebagian endometrium dilepaskan sebagai respon terhadap penurunan kadar hormon estrogen dan progesteron.


Endometrium terdiri dari 3 lapisan. Lapisan paling atas dan lapisan tengah dilepaskan, sedangkan lapisan dasarnya tetap dipertahankan dan menghasilkan sel-sel baru untuk kembali membentuk kedua lapisan yang telah dilepaskan.
Perdarahan menstruasi berlangsung selama 3-7 hari, rata-rata selama 5 hari. Darah yang hilang sebanyak 28-283 gram. Darah menstruasi biasanya tidak membeku kecuali jika perdarahannya sangat hebat.

2. Fase Ovulatoir


Fase ini dimulai ketika kadar LH meningkat dan pada fase ini dilepaskan sel telur. Sel telur biasanya dilepaskan dalam waktu 16-32 jam setelah terjadi peningkatan kadar LH.


Folikel yang matang akan menonjol dari permukaan ovarium, akhirnya pecah dan melepaskan sel telur. Pada saat ovulasi ini beberapa wanita merasakan nyeri tumpul pada perut bagian bawahnya; nyeri ini dikenal sebagai mittelschmerz, yang berlangsung selama beberapa menit sampai beberapa jam.

3. Fase Luteal


Fase ini terjadi setelah ovulasi dan berlangsung selama sekitar 14 hari.
Setelah melepaskan telurnya, folikel yang pecah kembali menutup dan membentuk korpus luteum yang menghasilkan sejumlah besar progesteron.

Progesteron menyebabkan suhu tubuh sedikit meningkat selama fase luteal dan tetap tinggi sampai siklus yang baru dimulai.
Peningkatan suhu ini bisa digunakan untuk memperkirakan terjadinya ovulasi.

Setelah 14 hari, korpus luteum akan hancur dan siklus yang baru akan dimulai, kecuali jika terjadi pembuahan.


Jika telur dibuahi, korpus luteum mulai menghasilkan HCG (human chorionic gonadotropin). Hormon ini memelihara korpus luteum yang menghasilkan progesteron sampai janin bisa menghasilkan hormonnya sendiri.


Tes kehamilan didasarkan kepada adanya peningkatan kadar HCG.

Monday, December 23, 2013

Sistem Reproduksi Wanita

Organ kelamin luar wanita memiliki 2 fungsi, yaitu sebagai jalan masuk sperma ke dalam tubuh wanita dan sebagai pelindung organ kelamin dalam dari organisme penyebab infeksi.

Saluran kelamin wanita memiliki lubang yang berhubungan dengan dunia luar, sehingga mikroorganisme penyebab penyakit bisa masuk dan menyebabkan infeksi kandungan. Mikroorganisme ini biasanya ditularkan melalui hubungan seksual.

Organ kelamin dalam membentuk sebuah jalur (saluran kelamin), yang terdiri dari:

# Ovarium (indung telur), menghasilkan sel telur
# Tuba falopii (ovidak), tempat berlangsungnya pembuahan
# Rahim (uterus), tempat berkembangnya embrio menjadi janin
# Vagina, merupakan jalan lahir.

Alat reproduksi wanita

ORGAN KELAMIN LUAR

Organ kelamin luar (vulva) dibatasi oleh labium mayor (sama dengan skrotum pada pria). Labium mayor terdiri dari kelenjar keringat dan kelenjar sebasea (penghasil minyak); setelah puber, labium mayor akan ditumbuhi rambut.

Labium minor terletak tepat di sebelah dalam dari labium mayor dan mengelilingi lubang vagina dan uretra.

Lubang pada vagina disebut introitus dan daerah berbentuk separuh bulan di belakang introitus disebut forset.

Jika ada rangsangan, dari saluran kecil di samping introitus akan keluar cairan (lendir) yang dihasilkan oleh kelenjar Bartolin.

Uretra terletak di depan vagina dan merupakan lubang tempat keluarnya air kemih dari kandung kemih.

Labium minora kiri dan kanan bertemu di depan dan membentuk klitoris, yang merupakan penonjolan kecil yang sangat peka (sama dengan penis pada pria).

Klitoris dibungkus oleh sebuah lipatan kulit yang disebut preputium (sama dengan kulit depat pada ujung penis pria).

Klitoris sangat sensitif terhadap rangsangan dan bisa mengalami ereksi.

Labium mayor kiri dan kanan bertemu di bagian belakang membentuk perineum, yang merupakan suatu jaringan fibromuskuler diantara vagina dan anus.

Kulit yang membungkus perineum dan labium mayo sama dengan kulit di bagian tubuh lainnya, yaitu tebal dan kering dan bisa membentuk sisik. Sedangkan selaput pada labium minor dan vagina merupakan selaput lendir, lapisan dalamnya memiliki struktur yang sama dengan kulit, tetapi permukaannya tetap lembab karena adanya cairan yang berasal dari pembuluh darah pada lapisan yang lebih dalam.

Karena kaya akan pembuluh darah, maka labium minora dan vagina tampak berwarna pink.

Lubang vagina dikeliling oleh himen (selaput dara).
Kekuatan himen pada setiap wanita bervariasi, karena itu pada saat pertama kali melakukan hubungan seksual, himen bisa robek atau bisa juga tidak.

ORGAN KELAMIN DALAM

Dalam keadaan normal, dinding vagina bagian depan dan belakang saling bersentuhan sehingga tidak ada ruang di dalam vagina kecuali jika vagina terbuka (misalnya selama pemeriksaan atau selama melakukan hubungan seksual).

Pada wanita dewasa, rongga vagina memiliki panjang sekitar 7,6-10 cm. Sepertiga bagian bawah vagina merupakan otot yang mengontrol garis tengah vagina. Dua pertiga bagian atas vagina terletak diatas otot tersebut dan mudah teregang.

Serviks (leher rahim) terletak di puncak vagina.

Selama masa reproduktif, lapisan lendir vagina memiliki permukaan yang berkerut-kerut. Sebelum pubertas dan sesudah menopause, lapisan lendir menjadi licin.

Rahim merupakan suatu organ yang berbentuk seperti buah pir dan terletak di puncak vagina.

Rahim terletak di belakang kandung kemih dan di depan rektum, dan diikat oleh 6 ligamen.

Rahim terbagi menjadi 2 bagian, yaitu serviks dan korpus (badan rahim). Serviks merupakan uterus bagian bawah yang membuka ke arah vagina. Korpus biasanya bengkok ke arah depan.

Selama masa reproduktif, panjang korpus adalah 2 kali dari panjang serviks. Korpus merupakan jaringan kaya otot yang bisa melebar untuk menyimpan janin. Selama proses persalinan, dinding ototnya mengkerut sehingga bayi terdorong keluar melalui serviks dan vagina.

Sebuah saluran yang melalui serviks memungkinkan sperma masuk ke dalam rahim dan darah menstruasi keluar. Serviks biasanya merupakan penghalang yang baik bagi bakteri, kecuali selama masa menstruasi dan selama masa ovulasi (pelepasan sel telur).

Saluran di dalam serviks adalah sempit, bahkan terlalu sempit sehingga selama kehamilan janin tidak dapat melewatinya. Tetapi pada proses persalinan saluran ini akan meregang sehingga bayi bisa melewatinya.

Saluran serviks dilapisi oleh kelenjar penghasil lendir. Lendir ini tebal dan tidak dapat ditembus oleh sperma kecuali sesaat sebelum terjadinya ovulasi.

Pada saat ovulasi, konsistensi lendir berubah sehingga sperma bisa menembusnya dan terjadilah pembuahan (fertilisasi). Selain itu, pada saat ovulasi, kelenjar penghasil lendir di serviks juga mampu menyimpan sperma yang hidup selama 2-3 hari.

Sperma ini kemudian dapat bergerak ke atas melalui korpus dan masuk ke tuba falopii untuk membuahi sel telur. Karena itu, hubungan seksual yang dilakukan dalam waktu 1-2 hari sebelum ovulasi bisa menyebabkan kehamilan.

Lapisan dalam dari korpus disebut endometrium. Setiap bulan setelah siklus menstruasi, endometrium akan menebal.

Jika tidak terjadi kehamilan, maka endometrium akan dilepaskan dan terjadilah perdarahan. Ini yang disebut dengan siklus menstruasi.

Tuba falopii membentang sepanjang 5-7,6 cm dari tepi atas rahim ke arah ovarium.
Ujung dari tuba kiri dan kanan membentuk corong sehingga memiliki lubang yang lebih besar agar sel telur jatuh ke dalamnye ketika dilepaskan dari ovarium.

Ovarium tidak menempel pada tuba falopii tetapi menggantung dengan bantuan sebuah ligamen.

Sel telur bergerak di sepanjang tuba falopii dengan bantuan silia (rambut getar) dan otot pada dinding tuba.

Jika di dalam tuba sel telur bertemu dengan sperma dan dibuahi, maka sel telur yang telah dibuahi ini mulai membelah.

Selama 4 hari, embrio yang kecil terus membelah sambil bergerak secara perlahan menuruni tuba dan masuk ke dalam rahim.

Embrio lalu menempel ke dinding rahim dan proses ini disebut implantasi.

Setiap janin wanita pada usia kehamilan 20 minggu memiliki 6-7 juta oosit (sel telur yang sedang tumbuh) dan ketika lahir akan memiliki 2 juta oosit.

Pada masa puber, tersisa sebanyak 300.000-400.000 oosit yang mulai mengalami pematangan menjadi sel telur. Tetapi hanya sekitar 400 sel telur yang dilepaskan selama masa reproduktif wanita, biasanya setiap siklus menstruasi dilepaskan 1 telur.

Ribuan oosit yang tidak mengalami proses pematangan secara bertahap akan hancur dan akhirnya seluruh sel telur akan hilang pada masa menopause.

Sebelum dilepaskan, sel telur tertidur di dalam folikelnya.

Sel telur yang tidur tidak dapat melakukan proses perbaikan seluler seperti biasanya, sehingga peluang terjadinya kerusakan pada sel telur semakin meningkat sejalan dengan bertambahnya usia wanita. Karena itu kelainan kromosom maupun kelainan genetik lebih mungkin terjadi pada wanita yang hamil pada usianya yang telah lanjut.

Alat reproduksi wanita bagian dalam


Anatomi rahim

Kehamilan Resiko Tinggi

Kehamilan Resiko Tinggi adalah suatu kehamilan yang memiliki resiko lebih besar dari biasanya (baik bagi ibu maupun bayinya), akan terjadinya penyakit atau kematian sebelum maupun sesudah persalinan.

Untuk menentukan suatu kehamilan resiko tinggi, dilakukan penilaian terhadap wanita hamil untuk menentukan apakah dia memiliki keadaan atau ciri-ciri yang menyebabkan dia ataupun janinnya lebih rentan terhadap penyakit atau kematian (keadaan atau ciri tersebut disebut faktor resiko).
Faktor resiko bisa memberikan suatu angka yang sesuai dengan beratnya resik

FAKTOR RESIKO SEBELUM KEHAMILAN

Sebelum hamil, seorang wanita bisa memiliki suatu keadaan yang menyebabkan meningkatnya resiko selama kehamilan.
Selain itu, jika seorang wanita mengalami masalah pada kehamilan yang lalu, maka resikonya untuk mengalami hal yang sama pada kehamilan yang akan datang adalah lebih besar.

Karakteristik ibu

Usia wanita mempengaruhi resiko kehamilan.

Anak perempuan berusia 15 tahun atau kurang lebih rentan terhadap terjadinya pre-eklamsi (suatu keadaan yang ditandai dengan tekanan darah tinggi, protein dalam air kemih dan penimbunan cairan selama kehamilan) dan eklamsi (kejang akibat pre-eklamsi). Mereka juga lebih mungkin melahirkan bayi dengan berat badan rendah atau bayi kurang gizi.

Wanita yang berusia 35 tahun atau lebih, lebih rentan terhadap tekanan darah tinggi, diabetes atau fibroid di dalam rahim serta lebih rentan terhadap gangguan persalinan. Diatas usia 35 tahun, resiko memiliki bayi dengan kelainan kromosom (misalnya sindroma Down) semakin meningkat. Pada wanita hamil yang berusia diatas 35 tahun bisa dilakukan pemeriksaan cairan ketuban (amniosentesis) untuk menilai kromosom janin.

Seorang wanita yang pada saat tidak hamil memiliki berat badan kurang dari 50 kg, lebih mungkin melahirkan bayi yang lebih kecil dari usia kehamilan (KMK, kecil untuk masa kehamilan). Jika kenaikan berat badan selama kehamilan kurang dari 7,5 kg, maka resikonya meningkat sampai 30%.

Sebaliknya, seorang wanita gemuk lebih mungkin melahirkan bayi besar. Obesitas juga menyebabkan meningkatnya resiko terjadinya diabetes dan tekanan darah tinggi selama kehamilan.

Seorang wanita yang memiliki tinggi badan kurang dari 1,5 meter, lebih mungkin memiliki panggul yang sempit. Selain itu, wanita tersebut juga memiliki resiko yang lebih tinggi untuk mengalami persalinan prematur dan melahirkan bayi yang sangat kecil.

Peristiwa pada kehamilan yang lalu

Seorang wanita yang 3 kali berturut-turut mengalami keguguran pada trimester pertama, memiliki resiko sebesar 35% unuk mengalami keguguran lagi.

Keguguran juga lebih mungkin terjadi pada wanita yang pernah melahirkan bayi yang sudah meninggal pada usia kehamilan 4-8 minggu atau pernah melahirkan bayi prematur.

Sebelum mencoba hamil lagi, sebaiknya seorang wanita yang pernah mengalami keguguran menjalani pemeriksaan untuk:
- kelainan kromosom atau hormon
- kelainan struktur rahim atau leher rahim
- penyakit jaringan ikat (misalnya lupus)
- reksi kekebalan pada janin (biasanya ketidaksesuaian Rh).
Jika penyebab terjadinya keguguran diketahui, maka dilakukan tindakan pengobatan.

Kematian di dalam kandungan atau kematian bayi baru lahir bisa terjadi akibat:
- Kelainan kromosom pada bayi
- Diabetes
- Penyakit ginjal atau pembuluh darah menahun
- Tekanan darah tinggi
- Penyalahgunaan obat
- Penyakit jaringan ikat pada ibu (misalnya lupus).

Seorang wanita yang pernah melahirkan bayi prematur, memiliki resiko yang lebih tinggi untuk melahirkan bayi prematur pada kehamilan berikutnya.

Seorang wanita yang pernah melahirkan bayi dengan berat badan kurang dari 1,5 kg, memiliki resiko sebesar 50% untuk melahirkan bayi prematur pada kehamilan berikutnya.

Jika seorang wanita pernah melahirkan bayi dengan berat badan lebih dari 5 kg, mungkin dia menderita diabetes.

Jika selama kehamilan seorang wanita menderita diabetes, maka resiko terjadinya keguguran atau resiko kematian ibu maupun bayinya meningkat.
Pemeriksaan kadar gula darah dilakuka pada wanita hamil ketika memasuki usia kehamilan 20-28 minggu.

Seorang wanita yang telah mengalami kehamilan sebanyak 6 kali atau lebih, lebih mungkin mengalami:
- kontraksi yang lemah pada saat persalinan (karena otot rahimnya lemah)
- perdarahan setelah persalinan (karena otot rahimnya lemah)
- persalinan yang cepat, yang bisa menyebabkan meningkatnya resiko perdarahan vagina yang berat
- plasenta previa (plasenta letak rendah).

Jika seorang wanita pernah melahirkan bayi yang menderita penyakit hemolitik, maka bayi berikutnya memiliki resiko menderita penyakit yang sama.

Penyakit ini terjadi jika darah ibu memiliki Rh-negatif, darah janin memiliki Rh-positif dan ibu membentuk antibodi untuk menyerang darah janin; antibodi ini menyebabkan kerusakan pada sel darah merah janin.

Pada kasus seperti ini, dilakukan pemeriksaan darah pada ibu dan ayah. Jika ayah memiliki 2 gen untuk Rh-positif, maka semua anaknya akan memiliki Rh-positif; jika ayah hanya memiliki 1 gen untuk Rh-positif, maka peluang anak-anaknya untuk memiliki Rh-positif adalah sebesar 50%.

Biasanya pada kehamilan pertama, perbedaan Rh antara ibu dengan bayinya tidak menimbulkan masalah, tetapi kontak antara darah ibu dan bayi pada persalinan menyebabkan tubuh ibu membentuk antibodi. Akibatnya, resiko penyakit hemolitik akan ditemukan pada kehamilan berikutnya.

Tetapi setelah melahirkan bayi dengan Rh-positif, biasanya pada ibu yang memiliki Rh-negatif diberikan immunoglobulin Rh-nol-D, yang akan menghancurkan antibodi Rh. Karena itu, penyakit hemolitik pada bayi jarang terjadi.

Seorang wanita yang pernah mengalami pre-eklamsi atau eklamsi, kemungkinan akan mengalaminya lagi pada kehamilan berikutnya, terutama jika diluar kehamilan dia menderita tekanan darah tinggi menahun.

Jika seorang wanita pernah melahirkan bayi dengan kelainan genetik atau cacat bawaan, biasanya sebelum merencanakan kehamilan berikutnya, dilakukan analisa genetik pada bayi dan kedua orangtuanya.

Kelainan struktur

Kelainan struktur pada organ reproduksi wanita (misalnya rahim ganda atau leher rahim yang lemah) bisa meningkatkan resiko terjadinya keguguran.
Untuk mengetahui adanya kelainan struktur, bisa dilakukan pembedahan diagnostik, USG atau rontgen.

Fibroid (tumor jinak) di dalam rahim bisa meningkatkan resiko terjadinya:
- kelahiran prematur
- gangguan selama persalinan
- kelainan letak janin
- kelainan letak plasenta
- keguguran berulang.

Keadaan kesehatan

Keadaan kesehatan tertentu pada wanita hamil bisa membahayakan ibu dan bayi yang dikandungnya.
Keadaan kesehatan yang sangat penting adalah:
- Tekanan darah tinggi menahun
- Penyakit ginjal
- Diabetes
- Penyakit jantung yang berat
- Penyakit sel sabit
- Penyakit tiroid
- Lupus
- Kelainan pembekuan darah.

Riwayat keluarga

Riwayat adanya keterbelakangan mental atau penyakit keturunan lainnya di keluarga ibu atau ayah menyebabkan meningkatnya kemungkinan terjadinya kelainan tersebut pada bayi yang dikandung. Kecenderungan memiliki anak kembar juga sifatnya diturunkan.


FAKTOR RESIKO SELAMA KEHAMILAN

Seorang wanita hamil dengan resiko rendah bisa mengalami suatu perubahan yang menyebabkan bertambahnya resiko yang dimilikinya.

Dia mungkin terpapar oleh teratogen (bahan yang bisa menyebabkan cacat bawaan), seperti radiasi, bahan kimia tertentu, obat-obatan dan infeksi; atau dia bias mengalami kelainan medis atau komplikasi yang berhubungan dengan kehamilan.

Obat-obatan atau infeksi

Obat-obatan yang diketahui bisa menyebabkan cacat bawaan jika diminum selama hamil adalah:
- Alkohol
- Phenitoin
- Obat-obat yang kerjanya melawan asam folat (misalnya triamteren atau trimethoprim)
- Lithium
- Streptomycin
- Tetracyclin
- Talidomide
- Warfarin.

Infeksi yang bisa menyebabkan cacat bawaan adalah:
- Herpes simpleks
- Hepatitis virus
- Influenza
- Gondongan
- Campak Jerman (rubella)
- Cacar air (varisela)
- Sifilis
- Listeriosis
- Toksoplasmosis
- Infeksi oleh virus coxsackie atau sitomegalovirus.

Merokok berbahaya bagi ibu dan janin yang dikandungnya, tetapi hanya sekitar 20% wanita yang berhenti merokok selama hamil.

Efek yang paling sering terjadi akibat merokok selama hamil adalah berat badan bayi yang rendah. Selain itu, wanita hamil yang merokok juga lebih rentan mengalami:
- komplikasi plasenta
- ketubah pecah sebelum waktunya
- persalinan prematur
- infeksi rahim.

Seorang wanita hamil yang tidak merokok sebaiknya menghindari asap rokok dari orang lain karena bisa memberikan efek yang sama terhadap janinnya.

Cacat bawaan pada jantung, otak dan wajah lebih sering ditemikan pada bayi yang ibunya merokok.

Merokok selama hamil juga bisa menyebabkan meningkatnya resiko terjadinya sindroma kematian bayi mendadak.

Selain itu, anak-anak yang dilahirkan oleh ibu perokok bisa mengalami kekurangan yang sifatnya ringan dalam hal pertumbuhan fisik, perkembangan intelektual dan perilaku. Efek ini diduga disebabkan oleh karbon monoksida (yang menyebabkan berkurangnya pasokan oksigen ke jaringan tubuh) dan nikotin (yang merangsang pelepasan hormon yang menyebabkan pengkerutan pembuluh darah yang menuju ke plasenta dan rahim).

Mengkonsumsi alkohol selama hamil bisa menyebabkan cacat bawaan.

Sindroma alkohol pada janin merupakan salah satu akibat utama dari pemakaian alkohol selama hamil. Sindroma ini ditandai dengan:
- keterbelakangan pertumbuhan sebelum atau sesudah lahir
- kelainan wajah
- mikrosefalus (ukuran kepala lebih kecil), yang kemungkinan disebabkan oleh pertumbuhan otak yang dibawah normal
- kelainan perkembangan perilaku.

Sindroma alkohol pada janin seringkali menyebabkan keterbelakangan mental.
Selain itu, alkohol juga bisa menyebabkan keguguran dan gangguan perilaku yang berat pada bayi maupun anak yang sedang tumbuh (misalnya perilaku antisosial dan kurang memperhatikan).

Resiko terjadinya keguguran pada wanita hamil yang mengkonsumsi alkohol adalah 2 kali lipat, terutama jika wanita tersebut adalah peminum berat.
Berat badan bayi yang dilahirkan berada di bawah normal, yaitu rata-rata 2 kg.

Suatu pemeriksaan laboratorium yang sensitif dan tidak memerlukan biaya besar, yaitu kromatografi, bisa digunakan untuk mengetahui pemakaian heroin, morfin, amfetamin, barbiturat, kodein, kokain, marijuana, metadon atau fenotiazin pada wanita hamil.

Wanita yang menggunakan obat suntik memiliki resiko tinggi terhadap:
- Anemia
- Bakteremia
- Endokarditis
- Abses kulit
- Hepatitis
- Flebitis
- Pneumonia
- Tetanus
- Penyakit menular seksual (termasuk AIDS).

Sekitar 75% bayi yang menderita AIDS, ibunya adalah pemakai obat suntik atau pramuria. Bayi-bayi tersebut juga memiliki resiko menderita penyakit menular seksual lainnya, hepatitis dan infeksi. Pertumbuhan mereka di dalam rahim kemungkinan mengalami kemunduran dan mereka bisa lahir prematur.

Kokain merangsang sistem saraf pusat, bertindak sebagai obat bius lokal dan menyebabkan pengkerutan pembuluh darah. Pembuluh darah yang mengkerut bisa menyebabkan berkurangnya aliran darah sehingga kadang janin tidak mendapatkan oksigen yang cukup.
Berkurangnya aliran darah dan oksigen bisa menyebabkan gangguan pertumbuhan berbagai organ dan biasanya menyebabkan cacat kerangka serta penyempitan sebagian usus.

Pemeriksaan air kemih untuk mengatahui adanya kokain biasanya dilakukan jika:
- seorang wanita hamil tiba-tiba menderita tekanan darah tinggi yang berat
- terjadi perdarahan akibat pelepasan plasenta sebelum waktunya
- terjadi kematian dalam kandungan yang sebabnya tidak diketahui.
31% dari wanita pemakai kokain mengalami persalinan prematur, 19% melahirkan bayi yang pertumbuhannya terhambat dan 15% mengalami pelepasan plasenta sebelum waktunya.
Jika pemakaian kokain dihentikan setelah trimester pertama, maka resiko persalinan prematur dan pelepasan plasenta sebelum waktunya tetap meningkat, tetapi pertumbuhan janinnya normal.

Keadaan kesehatan

Tekanan darah tinggi pada wanita hamil bisa disebabkan oleh kehamilan atau keadaan lain.
Tekanan darah tinggi di akhir kehamilan bisa merupakan ancaman serius terhadap ibu dan bayinya dan harus segera diobati.

Jika seorang wanita hamil pernah menderita infeksi kandung kemih, maka dilakukan pemeriksaan air kemih pada awal kehamilan. Jika ditemukan bakteri, segera diberikan antibiotik untuk mencegah infeksi ginjal yang bisa menyebabkan persalinan prematur dan ketuban pecah sebelum waktunya.

Infeksi vagina oleh bakteri selama hamil juga bisa menyebabkan persalinan prematur dan ketuban pecah sebelum waktunya. Untuk mencegah terjadinya hal tersebut, diberikan antibiotik.

Penyakit yang menyebabkan demam (suhu lebih tinggi dari 39,4° Celsius) pada trimester pertama menyebabkan meningkatnya kemungkinan terjadinya keguguran dan kelainan sistem saraf pada bayi.
Demam pada trimester terakhir menyebabkan meningkatnya kemungkinan terjadinya persalinan prematur.

Komplikasi kehamilan

1. Inkompatibilitas Rh

Ibu dan janin yang dikandungnya bisa memiliki jenis darah yang tidak sesuai. Yang paling sering terjadi adalah inkompatibilitas Rh, yang bisa menyebabkan penyakit hemolitik pada bayi baru lahir.

Penyakit hemolitik bisa terjadi jika ibu memiliki Rh-negatif, ayah memiliki Rh-positif, janin memiliki Rh-positif dan tubuh ibu membuat antibodi untuk melawan darah janin.
Jika seorang ibu hamil memiliki Rh-negatif, maka dilakukan pemeriksaan antibodi terhadap janin setiap 2 bulan.

Resiko pembentukan antibodi ini meningkat pada keadaan berikut:
- setelah terjadinya perdarahan dimana darah ibu dan darah janin bercampur
- setelah pemeriksaan amniosentesis
- dalam waktu 72 jam setelah melahirkan bayi dengan Rh-positif.
Pada saat ini dan pada kehamilan 28 minggu, diberikan imunoglobulin Rh-nol-D kepada ibu, yang akan menghancurkan antibodi Rh.

2. Perdarahan

Penyebab perdarahan paling sering pada trimester ketiga adalah:
- Kelainan letak plasenta
- Pelepasan plasenta sebelum waktunya
- Penyakit pada vagina atau leher rahim (misalnya infeksi).
Perdarahan pada trimester ketiga memiliki resiko terjadinya kematian bayi, perdarahan hebat dan kematian ibu pada saat persalinan.
Untuk menentukan penyebab terjadinya perdarahan bisa dilakukan pemeriksaan USG, pengamatan leher rahim dan Pap smear.

3. Kelainan pada cairan ketuban

Air ketuban yang terlalu banyak akan menyebabkan peregangan rahim dan menekan diafragma ibu. Hal ini bisa menyebabkan gangguan pernafasan yang berat pada ibu atau terjadinya persalinan prematur.
Air ketuban yang terlalu banyak cenerung terjadi pada:
- ibu yang menderita diabetes yang tidak terkontrol
- kehamilan ganda
- inkompatibilitas Rh
- bayi dengan cacat bawaan (misalnya penyumbatan kerongkongan atau kelainan sistem saraf).

Air ketuban yang terlalu sedikit ditemukan pada:
- bayi yang memiliki cacat bawaan pada saluran kemih
- bayi yang mengalami hambatan pertumbuhan
- bayi yang meninggal di dalam kandungan.

4. Persalinan prematur

Persalinan prematur lebih mungkin terjadi pada keadaan berikut:
- ibu memiliki kelainan struktur pada rahim atau leher rahim
- perdarahan
- stress fisik atau mental
- kehamilan ganda
- ibu pernah menjalani pembedahan rahim.

Persalinan prematur seringkali terjadi jika:
- bayi berada dalam posisi sungsang
- plasenta terlepas dari rahim sebelum waktunya
- ibu menderita tekanan darah tinggi
- air ketuban terlalu banyak
- ibu menderita pneumonia, infeksi ginjal atau apendisitis.

5. Kehamilan ganda

Kehamilan lebih dari 1 janin juga bisa menyebabkan meningkatnya kemungkinan terjadinya cacat bawaan dan kelainan pada saat persalinan.

6. Kehamilan lewat waktu

Pada kehamilan yang terus berlanjut sampai lebih dari 42 minggu, kemungkinan terjadinya kematian bayi adalah 3 kali lebih besar.


Penilaian kehamilan resiko tinggi

Nilai 10 atau lebih menunjukkan resiko tinggi.

Faktor Resiko dan Skor
SEBELUM KEHAMILAN

Karakteristik ibu

Usia 35 tahun atau lebih atau 15 tahun atau kurang : 5
Berat badan kurang dari 50 kg atau lebih dari 100 kg : 5
Peristiwa pada kehamilan yg lalu
Kematian dalam kandungan : 10
Kematian bayi baru lahir : 10
Bayi prematur : 10
Kecil untuk masa kehamilan : 10
Transfusi darah janin untuk penyakit hemolitik : 10
Persalinan terlambat (lebih dari 42 minggu) : 10
Keguguran berulang : 5
Bayi besar (lebih dari 5 kg) : 5
Hamil sebanyak 6 kali atau lebih : 5
Riwayat eklamsi : 5
Operasi sesar : 5
Epilepsi atau kelumpuhan serebral pada ibu : 5
Riwayat pre-eklamsi : 1
Cacat bawaan pada bayi sebelumnya : 1

Kelainan struktur

Rahim ganda : 10
Kelemahan pada leher rahim : 10
Panggul sempit : 5

Keadaan medis

Tekanan darah tinggi menahun : 10
Penyakit ginjal sedang sampai berat : 10
Penyakit jantung berat : 10
Diabetes yg tergantung kepada insulin : 10
Penyakit sel sabit : 10
Hasil Pap smear yg abnormal : 10
Penyakit jantung sedang : 5
Penyakit tiroid : 5
Riwayat tuberkulosis : 5
Penyakit paru-paru (misalnya asma) : 5
Hasil pemeriksaan darah yg positif untuk sifilis atau HIV : 5
Riwayat infeksi kandung kemih : 1
Riwayat keluarga yg menderita diabetes : 1

SELAMA KEHAMILAN

Obat-obatan & infeksi

Pemakaian obat atau alkohol : 5
Penyakit virus (misalnya campak Jerman) : 5
Influenza berat : 5
Merokok : 1

Komplikasi medis

Pre-eklamsi sedang sampai berat : 10
Pre-eklamsi ringan : 5
Infeksi ginjal : 5
Diabetes gestsional : 5
Anemia berat : 10
Infeksi kandung kemih : 1
Anemia ringan : 1

Komplikasi kehamilan pada ibu

Plasenta previa : 10
Pelepasan plasenta prematur : 10
Cairan ketuban terlalu sedikit atau terlalu banyak : 10
Infeksi plasenta : 10
Robekan pada rahim : 10
Persalinan terlambat (lebih dari 42 minggu atau terlambat lebih dari 2 minggu) : 10
Sensitisasi Rh pada darah janin : 5
Bercak perdarahan : 5
Persalinan prematur : 5
Ketuban pecah lebih dari 12 jam sebelum persalinan : 5
Leher rahim berhenti melebar : 5
Persalinan berlangsung lebih dari 20 jam : 5
Mengedan lebih dari 2 jam : 5
Persalinan cepat (kurang dari 3 jam) :5
Operasi sesar : 5
Induksi persalinan karena alasan medis : 5
Induksi persalinan : 1

Komplikasi kehamilan pada bayi

Mekonium dalam cairan ketuban (hijau tua) : 10
Letak bayi abnormal (misalnya letak bokong) : 10
Persalinan letak bokong, dibantu seluruhnya 10
Kehamilan ganda (terutama 3 atau lebih) : 10
Denyut jantung lambat atau sangat cepat : 10
Prolapsus tali pusat : 10
Berat badan kurang dari 2,75 kg :10
Mekonium dalam cairan ketuban (hijau muda) :5
Persalinan dengan bantuan forseps atau ekstraksi vakum :5
Persalinan letak bokong, tidak dibantu atau dibantu sebagian :5
Pembiusan total pada ibu selama persalinan : 5

Bayi kecil

# Bayi prematur adalah bayi yang lahir sebelum usia kehamilan mencapai 37 minggu
# Bayi lahir dengan berat badan rendah adalah bayi yang pada saat dilahirkan memiliki berat badan 2,75 kg atau kurang
# Kecil untuk masa kehamilan adalah bayi yang berat badannya lebih kecil jika dibandingkan dengan usia kehamilan
# Bayi yang pertumbuhannya terhambat adalah bayi yang pertumbuhannya (berat dan tinggi badan) di dalam rahim terhambat.

Penyakit-penyakit Yg Bisa Mempersulit Kehamilan


GAGAL JANTUNG

Gagal Jantung adalah ketidakmampuan jantung untuk memompa sejumlah darah guna mencukupi kebutuhan tubuh.

Sejalan dengan bertambahnya usia kehamilan, seorang wanita penderita gagal jantung akan semakin merasa cepat lelah meskipun dia cukup istirahat, menghindari stres, mengkonsumsi makanan yang bergizi, mengkonsumsi zat besi untuk mencegah anemia dan membatasi kenaikan berat badannya.

Saat-saat yang memerlukan perhatian khusus dimana tuntutan terhadap jantung sangat besar adalah pada kehamilan 28-34 minggu, selama persalinan dan segera setelah persalinan.
Penyakit jantung yang diderita ibu bisa mempengaruhi janin. Janin bisa meninggal ketika ibu mengalami serangan gagal jantung atau lahir prematur.

Persalinan dan bertambahnya jumlah darah dari rahim yang kembali ke jantung menyebabkan meningkatnya kerja jantung. Pada setiap kontraksi rahim, jantung memompa darah 20% lebih banyak.

Pada penderita gagal jantung yang berat, bisa diberikan obat bius epidural untuk mematikan rasa pada korda spinalis bagian bawah dan agar penderita tidak perlu mengedan selama proses persalinan berlangsung. Mengedan menyebabkan terganggunya penyerapan oksigen melalui paru-paru ibu sehingga jumlah oksigen yang sampai ke janin berkurang.
Bayi dilahirkan dengan bantuan forseps atau melalui operasi sesar.

PENYAKIT JANTUNG REMATIK

Penyakit Jantung Rematik adalah suatu komplikasi yang biasa ditemukan pada demam rematik, dimana satu atau beberapa katup jantung mengalami penyempitan, terutama katup mitral (stenosis katup mitral).

Kelainan yang timbul akibat penyempitan katup jantung akan semakin memburuk selama hamil.

Suatu katup yang menyempit menyebabkan meningkatnya denyut jantung, bertambahnya volume darah dan meningkatnya beban kerja jantung. Akibatnya cairan bisa mengalir balik ke paru-paru dan menyebabkan edema paru.

Seorang wanita yang menderita penyakit jantung rematik, sebelum hamil sebaiknya menjalani pembedahan untuk memperbaiki katup mitral.

Jika perlu, pembedahan bisa dilakukan ketika hamil, tetapi hal ini akan meingkatkan resiko kehilangan janin atau persalinan prematur.

Selama hamil, sebaiknya penderita membatasi aktivitas fisiknya sertaidak boleh terlalu lelah dan cemas.

Katup yang mengalami kerusakan lebih rentan terhadap infeksi, karena itu sebagai tindakan pencegahan diberikan antibiotik pada saat persalinan, 8 jam setelah persalinan dan setelah setiap tindakan yang menyebabkan meningkatnya resiko infeksi (misalnya pencabutan gigi atau ketuban pecah sebelum waktunya).

KELAINAN JANTUNG BAWAAN

Jika sebelum hamil kelainan jantung bawaan ini tidak menimbulkan gejala, maka resiko terjadinya komplikasi selama hamil tidak meningkat.

Jika kelainan ini mengenai sisi kanan jantung dan paru-paru (misalnya sindroma Eisenmenger dan hipertensi pulmoner primer), maka besar kemungkinannya penderita mengalami kolaps dan meninggal selama persalinan atau segera sesudahnya. Penyebab terjadinya kematian tidak diketahiu, tetapi resikonya cukup besar sehingga penderita tidak dianjurkan untuk hamil.

Untuk mencegah terjadinya infeksi akibat kelainan katup jantung diberikan antibiotik.


PROLAPS KATUP MITRAL

Pada prolaps katup mitral, daun katup menonjol ke dalam atrium kiri selama kontraksi ventrikel, kadang menyebabkan kebocoran (regurgitasi) sejumlah kecil darah ke dalam atrium.

Prolaps katup mitral lebih sering ditemukan pada wanita muda dan cenderung diturunkan.
Gejalanya adalah murmur, palpitasi (jantung berdebar) dan kadang ketidakteraturan irama jantung.

Selama hamil, kebanyakan wanita penderita penyakit ini tidak mengalami komplikasi. Tetapi selama proses persalinan biasanya diberikan antibiotik intravena (melalui pembuluh darah) untuk mencegah infeksi pada katup jantung.


TEKANAN DARAH TINGGI

Jika seorang wanita yang memiliki tekanan darah agak tinggi (140/90 - 150/100 mm Hg) hamil, biasanya dokter menghentikan pemakaian obat-obatan untuk menurunkan tekanan darahnya. Kerugian yang ditimbulkan oleh obat terhadap janin lebih tinggi dibandingkan keuntungan yang diperoleh ibu.

Untuk membantu mengontrol tekanan darahnya, penderita dianjurkan untuk membatasi asupan garam dan mengurangi aktivitas fisik.

Wanita hamil yang menderita hipertensi sedang (tekanan darah tinggi sedang, yaitu 150/90 - 180/110 mm Hg), seringkali harus terus mengkonsumsi obat anti-hipertensi.

Obat anti-hpertensi yang biasanya diberikan kepada wanita hamil adalah metildopa dan hidralazin. Diuretik (obat yang bisa membuang kelebihan cairan dalam tubuh) tidak digunakan karena bisa menghambat pertumbuhan janin.

Setiap bulan dilakukan pemeriksaan fungsi ginjal dan pemantauan pertumbuhan janin dengan USG. Persalinan biasanya dimulai (diinduksi) pada kehamilan 38 minggu.

Wanita hamil yang menderita hipertensi berat (diatas 180/110 mm Hg) memerlukan perawatan khusus.

Kehamilan bisa semakin memperburuk hipertensi dan mungkin akan menyebabkan pembengkakan otak (stroke).

Pada wanita penderita hipertensi berat lebih sering terjadi abrupsio plasenta (pelepasan plasenta sebelum waktunya), yang menyebabkan terputusnya pasokan oksigen dan zat gizi ke janin sehingga janin bisa meninggal.

Bahkan meskipun tidak terjadi abrupsio plasenta, hipertensi bisa menyebabkan berkurangnya pasokan darah ke janin sehingga pertumbuhan janin menjadi lambat.

Jika kehamilan ingin dilanjutkan, biasanya harus diberikan obat anti-hipertensi yang lebih kuat. Untuk melindungi janin dan ibu, biasanya penderita harus dirawat di rumah sakit. Jika kondisinya semakin memburuk, disarankan untuk mengakhiri kehamilan guna menyelamatkan ibu.


ANEMIA

Anemia adalah suatu keadaan dimana jumlah sel darah merah atau jumlah hemoglobin (protein pengangkut oksigen) di bawah normal.

Sebagian besar wanita hamil mengalami anemia yang tidak membahayakan. Tetapi anemia akibat kelainan bawaan pada hemoglobin bisa mempersulit kehamilan.
Kelainan tersebut meningkatkan resiko penyakit dan kematian pada bayi baru lahir dan meningkatkan penyakit pada ibu.

Wanita penderita penyakit sel sabit memiliki resiko mengalami infeksi selama hamil. Yang paling sering ditemukan adalah pneumonia, infeksi saluran kemih dan infeksi rahim.
Sekitar sepertiga wanita hamil yang menderita penyakit sel sabit, selama hamil mengalami hipertensi. Selain itu, sering terjadi krisis sel sabit.
Juga bisa terjadi gagal jantung dan emboli paru.

Semakin berat keadaan penyakit ini sebelum hamil, maka semakin tinggi resiko terjadinya komplikasi dan kematian selama hamil.

Untuk mengurangi resiko terjadinya komplikasi, diberikan transfusi darah guna mempertahankan kadar hemoglobin.


PENYAKIT GINJAL

Seorang wanita yang sebelum hamil menderita penyakit ginjal berat tidak mungkin bisa mengandung bayinya sampai cukup matang untuk dilahirkan.
Tetapi beberapa wanita yang secara rutin menjalani dialisa akibat gagal ginjal dan banyak wanita yang telah menjalani pencangkokan ginjal bisa melahirkan bayi yang sehat.

Wanita hamil yang menderita penyakit ginjal biasanya memerlukan perawatan dari ahli ginjal dan ahli kandungan. Secara rutin dilakukan pemeriksaan fungsi ginjal, tekanan darah dan berat badan.
Asupan garam dibatasi. Pemberian diuretik membantu mengendalikan tekanan darah dan edema.
Penderita seringkali harus dirawat di rumah sakit setelah kehamilan mencapai 28 minggu. Persalinan dini harus dilakukan untuk menyelamatkan bayi dan biasanya dilakukan melalui operasi sesar.


PENYAKIT INFEKSI

Infeksi saluran kemih sering terjadi selama hamil, kemungkinan karena uterus yang membesar memperlambat aliran air kemih (menekan ureter).

Jika aliran air kemih lambat, bakteri tidak bisa dibuang dari saluran kemih sehingga menyebabkan meningkatnya kemungkinan terjadinya infeksi.
Infeksi yang terjadi meningkatkan resiko terjadinya persalinan dini dan pecahnya ketuban sebelum waktunya.

Kadang infeksi pada kandung kemih atau ureter menyebar ke saluran kemih dan sampai ke ginjal, menyebabkan infeksi ginjal. Untuk mengatasinya diberikan antibiotik.

Beberapa infeksi yang berbahaya bagi janin:

# Campak Jerman (rubella) : infeksi virus yang merupakan penyebab utama dari cacat bawaan, terutama pada jantung dan telinga bagian dalam.
# Infeksi sitomegalovirus: bisa melewati plasenta dan merusak hati janin.
# Toksoplasmosis : bisa menginfeksi dan merusak otak janin. Wanita hamil sebaiknya menghindari kucing dan kotoran kucing karena bisa menularkan toksoplasmosis.
# Hepatitis infeksiosa.

nfeksi klamidia bisa menyebabkan ketuban pecah sebelum waktunya dan persalinan dini.
Pada persalinan melalui vagina, herpes genitalis bisa ditularkan pada bayi. Jika seorang wanita hamil memiliki luka herpes, biasanya dianjurkan untuk menjalani operasi sesar untuk mencegah penularan penyakit pada bayinya.

Infeksi HIV (human immunodeficiency virus, virus penyebab AIDS) merupakan masalah utama dalam kehamilan. Sekitar 25% wanita hamil y ang menderita infeksi ini menularkannya kepada janinnya.

Sedini mungkin diberikan AZT (zidovudin) yang bisa menurunkan angka penularan kepada janin.

Jika terinfeksi, maka bayi segera menjadi sakit berat dan biasanya meninggal akibat komplikasi AIDS sebelum usianya mencapai 2 tahun.


DIABETES

Diabetes adalah suatu penyakit dimana kadar gula darah (glukosa) sangat tinggi.

Berbagai perubahan yang terjadi selama kehamilan menyebabkan semakin sulit untuk mengendalikan gula darah pada wanita penderita diabetes.
Perubahan kadar dan jenis hormon yang dihasilkan selama kehamilan bisa menyebabkan resistensi terhadap insulin sehingga kebutuhan tubuh akan insulin meningkat.

Diabetes yang bermula atau pertama kali muncul selama kehamilan (diabetes gestasional) terjadi pada 1-3% kehamilan.

Wanita hamil secara rutin menjalani penyaringan untuk diabetes gestasional. Setelah persalinan biasanya diabetes ini akan menghilang.

Diabetes yang tidak terkontrol bisa membahayakan janin dan ibunya.
Selama hamil, diberikan suntikan insulin karena obat anti-diabetes yang diminum bisa membahayakan janin.

Diabetes menyebabkan meningkatnya resiko infeksi, persalinan dini dan tekanan darah tinggi akibat kehamilan.

Jika hipertensi terkendali, maka kehamilan tidak akan memperburuk penyakit ginjal akibat diabetes dan jarang terjadi komplikasi ginjal.

Bayi yang dilahirkan oleh penderita diabetes biasanya sangat besar meskipun selama hamil kadar gula darah ibunya normal atau mendekati normal.
Kelainan bawaan kemungkinan besar terjadi jika diabetes selama kehamilan 6-7 minggu tidak terkontrol dengan baik.

Pada kehamilan 16-18 minggu dilakukan pengukuran kadar alfa fetoprotein (protein yang dihasilkan oleh janin) dalam contoh darah ibu.

Kadar alfa fetoprotein yang tinggi menunjukkan adanya spina bifida (perkembangan tulang belakang dan korda spinalis yang tidak sempurna), sedangkan kadar yang rendah menunjukkan sindroma Down.

Untuk mengetahui cacat bawaan lainnya, dilakukan pemeriksaan USG pada kehamilan 20-22 minggu.

Sebagian besar penderita diabetes bisa melahirkan bayinya secara normal.
Tetapi jika keadaan kesehatannya tidak memungkinkan atau diabetesnya selama hamil tidak terkontrol, tidak disarankan untuk melahirkan secara normal. Pada kasus seperti ini dilakukan amniosentesis untuk menilai kematangan paru-paru janin, sehingga bayi bisa dilahirkan secara dini melalui operasi sesar.

Operasi sesar juga dilakukan jika bayinya terlalu besar sehingga tidak dapat melewati jalan lahir atau mempersulit persalinan.

Kehamilan yang terlalu lama bisa membahayakan janin dari penderita diabetes. Biasanya persalinan terjadi pada atau sebelum 40 minggu.
Jika sampai 40 minggu belum juga lahir, dilakukan induksi dengan cara memecahkan ketuban dan memberikan oksitosin intravena atau dilakukan operasi sesar.
Jika kehamilan terus dibiarkan sampai lebih dari 42 minggu, bayi bisa meninggal dalam kandungan.

Segera setelah persalinan, banyak penderita yang tidak memerlukan insulin. Wanita yang sebelum hamil menderita diabetes, setelah persalinan kebutuhannya akan insulin menurun drastis, lalu secara bertahap meningkat lagi setelah sekitar 72 jam.

Bayi yang lahir dari penderita diabetes memiliki resiko menderita gangguan pernafasan, kadar gula darah dan kalsium yang rendah, sakit kuning dan jumlah sel darah merah yang meningkat. Kelainan ini bersifat sementara dan bisa diobati.


PENYAKIT TIROID

Kadar hormon tiroid yang tinggi selama hamil paling sering disebabkanoleh penyakit Grave atau tiroiditis.

Penyakit Grave terjadi akibat adanya antibodi yang merangsang kelenjar tiroid untuk menghasilkan sejumlah besar hormon tiroid. Antibodi ini bisa melewati plasenta dan menyebabkan meningkatnya aktivitas tiroid pada janin, sehingga denyut jantung janin menjadi cepat (lebih dari 160 kali/menit) dan pertumbuhannya terhambat.

Kadang penyakit Grave menghasilkan antibodi yang dapat menghambat pembentukan hormon tiroid. Antibodi ini bisa melewati plasenta dan menghalangi pembentukan hormon tiroid oleh kelenjar tiroid janin sehingga jumlah hormon tiroid tidak memadai (hipotiroidisme). Hipotiroidisme bisa menyebakban suatu bentuk keterbelakangan mental yang disebut kretinisme.

Untuk mengobati penyakit Grave biasanya diberikan propiltiourasil dosis rendah. Pemberian obat ini disertai dengan pemantauan ketat, karena propiltiourasil bisa melewati plasenta dan menghalangi pembentukan hormon tiroid oleh kelenjar tiroid janin.
Penyakit Grave seringkali membaik pada trimester ketiga sehingga dosisnya bisa dikurangi atau pemakaiannya dihentikan.

Kadang dilakukan tiroidektomi (pengangkatan kelenjar tiroid) pada trimester kedua. 24 jam setelah pembedahan, penderita harus mulai mengkonsumsi hormon tiroid dan terus mengkonsumsi hormon tiroid seumur hidupnya. Hormon ini hanya menggantikan hormon yang seharusnya dihasilkan oleh kelenjar tiroid dan tidak menimbulkan gangguan pada janin.

Tiroiditis adalah peradangan pada kelenjar tiroid yang menyebabkan pembengkakan di leher.
Selama hamil, peningkatan kadar hormon tiroid menyebabkan timbulnya gejala yang bersifat sementara dan biasanya tidak memerlukan pengobatan khusus.

2 penyebab utama dari rendahnya kadar hormon tiroid adalah tiroiditis Hashimoto (yang disebabkan oleh antibodi yang menghambat pembentukan hormon tiroid) dan pengobatan terhadap penyakit Grave.

Untuk mengatasinya diberikan tablet hormon tiroid.


PENYAKIT HATI

Wanita penderita hepatitis aktif kronis dan terutama yang telah membentuk sirosis seringkali sulit hamil. Jika bisa hamil, kemungkinan akan keguguran atau persalinan prematur.

Kehamilan bisa memperburuk penyumbatan aliran empedu pada sirosis bilier primer, kadang menyebakan sakit kuning atau air kemih yang berwarna gelap, tetapi hal ini akan menghilang setelah persalinan.
Pada penderita sirosis, kehamilan menyebabkan meningkatnya resiko perdarahan hebat pada varises di sekitar kerongkongan, terutama pada trimester ketiga.


ASMA

Kehamilan bisa mempengaruhi penderita asma, sebaliknya asma juga bisa mempengaruhi kehamilan, yaitu bisa menghambat pertumbuhan janin atau memicu terjadinya persalinan prematur.

Serangan asma yang ringan diatasi dengan pemberian bronkodilator hirup (misalnya isoproterenol), yang akan memperlebar penyempitan saluran udara pada paru-paru. Tetapi obat ini tidak boleh terlalu sering digunakan.

Serangan asma yang lebih berat biasanya diatasi dengan infus aminofilin.
Serangan asma yang sangat berat (status asmatikus) diatasi dengan pemberian infus kortikosteroid.
Jika terdapat infeksi, diberikan antibiotik.

Setelah suatu serangan, bisa diberikan tablet yang mengandung teofilin untuk mencegah serangan lanjutan.
Bronkodilator dan kortikosteroid banyak digunakan oleh ibu hamil dan tidak menimbulkan masalah yang berat.


LUPUS ERITEMATOSUS SISTEMIK

Lupus adalah suatu penyakit autoimun yang bisa muncul pertama kali pada saat hamil, atau semakin memburuk pada saat hamil atau semakin membaik pada saat hamil.
Pengaruh kehamilan terhadap lupus tidak dapat diramalkan, tetapi kekambuhan paling mungkin terjadi segera setelah persalinan.

Penderita lupus seringkali memiliki riwayat keguguran berulang, kematian lahir pada pertengahan kehamilan, pertumbuhan janin yang terhambat (IUGR, intrauterine growth retardation) dan persalinan prematur.

Antibodi yang menyebabkan terjadinya lupus bisa melewati plasenta dan menyebabkan denyut jantung yang sangat lambat, anemia, penurunan jumlah trombosit atau sel darah merah pada janin.
Antibodi ini secara perlahan akan menghilang dalam beberapa minggu setelah bayi lahir.


ARTRITIS REMATOID

Artritis Rematoid adalah suatu penyakit autoimun yang seringkali membaik selama kehamilan. Hal ini terjadi mungkin karena selama hamil, kadar hidrokortison di dalam darah meningkat.
Penyakit ini tidak mempengaruhi janin, tetapi mungkin akan timbul kesulitan dalam persalinan jika artritis menyerang persendian pinggul atau tulang belakang bagian bawah.


MIASTENIA GRAVIS

Miastenia Gravis adalah suatu penyakit autoimun yang menyebabkan kelemahan otot.
Pada saat persalinan, penderita mungkin memerlukan ventilator untuk membantu pernafasannya.

Antibodi penyebab miastenia gravis bisa melewati plasenta, sehingga 20% bayi yang dilahirkan oleh ibu penderita penyakit ini juga menderita miastenia gravis. Tetapi karena antibodi ibu secara perlahan akan menghilang dan bayi tidak membentuk antibodi sejenis ini, maka kelemahan otot pada bayi biasanya bersifat sementara.


PURPURA TROMBOSITOPENIK IDIOPATIK

Purpura Trombositopenik Idiopatik merupakan suatu penyakit autoimun, dimana jumlah trombosit dalam darah sangat menurun, kemungkinan karena adanya antibodi yang menghancurkan mereka. Akibatnya penderita mudah mengalami perdarahan.
Jika selama hamil tidak diobati, penyakit ini cenderung akan memburuk.

Antibodi bisa melewati plasenta dan menyebabkan berkurangnya trombosit pada janin sebelum atau segera setelah dilahirkan. Bayi bisa mengalami perdarahan selama persalinan, yang mungkin akan menyebabkan cedera atau kematian, terutama jika perdarahan terjadi di dalam otak.

Dengan melakukan analisa terhadap sejumlah contoh darah dari korda umbilikalis, bisa diketahui adanya antibodi dan kadar trombosit yang rendah pada janin.
Jika pada janin ditemukan antibodi, maka dilakukan operasi sesar untuk mencegah terjadinya trauma kelahiran yang bisa menyebabkan perdarahan pada otak bayi.
Antibodi akan menghilang dalam waktu 21 hari dan darah bayi akan kembali membeku secara normal.

Kortikosteroid bisa memperbaiki pembekuan darah pada wanita hamil tetapi efeknya tidak berlangsung lama.

Untuk memperbaiki pembekuan darah bisa diberikan infus gamma globulin dosis tinggi, sehingga persalinan bisa dimulai dan persalinan bisa dilakukan secara normal tanpa perdarahan yang berat.

Transfusi trombosit dilakukan hanya jika dilakukan operasi sesar uantuk melindungi bayi dan jika jumlah trombosit ibu sangat sedikit sehingga bisa menyebabkan perdarahan hebat.
Jika setelah dilakukan pengobatan kadar trombosit tetap rendah, kadang dilakukan splenektomi (pengangkatan limpa). Saat yang paling tepat untuk melakukan splenektomi adalah pada pertengahan kehamilan.


PEMBEDAHAN PADA SAAT HAMIL

Apendisitis (peradangan usus buntu) bisa menyebabkan nyeri kram yang menyerupai kontraksi rahim.
Jika apendisitis menimbulkan masalah, maka segera dilakukan apendektomi (pengangkatan usus buntu) karena apendisitis yang pecah bisa berakibat fatal.
Apendektomi tidak membahayakan janin dan tidak menyebabkan keguguran.

Kista ovarium bisa terjadi selama hamil dan bisa menyebabkan nyeri kram.
Jika kista ini jinak, pembedahan biasanya ditunda sampai usia kehamilan mencapai 12 minggu.
Jika kista terus membesar atau nyeri bila ditekan, maka pembedahan bisa dilakukan sebelum usia kehamilan mencapai 12 minggu karena kemungkinan penyebabnya adalah kanker atau abses.

Kelainan kandung empedu kadang terjadi selama hamil. Jika keadaannya tidak membaik, maka dilakukan pembedahan.

Penyumbatan usus bisa terjadi selama kehamilan.
Jika terbentuk gangren (kematian jaringan usus) dan peritonitis (peradangan selaput rongga perut), maka nyawa ibu terancam dan bisa terjadi keguguran.

Biasanya dilakukan pembedahan eksplorasi jika timbul gejala penyumbatan usus, terutama jika penderita pernah menjalani pembedahan perut atau infeksi perut.