Showing posts with label Seputar tanaman obat. Show all posts
Showing posts with label Seputar tanaman obat. Show all posts

Monday, September 1, 2014

Sembuhkan Penyakit dengan Akar Pakis dari Tangkuban Perahu

Khasiat akar tanaman pakis tangkur telah diuji secara ilmiah sebagai tanaman obat. Menurut Dekan Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran Anas Subarnas, tanaman pakis tersebut bisa untuk menyembuhkan penyakit darah tinggi, rematik, juga sebagai obat kuat. "Sudah dicoba pada hewan, mencit (tikus percobaan), kemudian ayam," kata Anas di sela orasi ilmiahnya sebagai Guru Besar di Bidang Farmakologi di Grha Sanusi Hardjadinata, Unpad, Jumat (20/2/2014).

Formulasi akar tanaman pakis tangkur (Polypodium fee) itu masih dikembangkan sebagai obat. Saat ini, pihaknya bekerjasama dengan beberapa pabrik farmasi untuk mengolah ekstrak sejumlah tanaman sebagai obat. Selama ini, katanya, akar pakis tangkur telah dipakai masyarakat sebagai obat tradisional. "Itu juga untuk menghilangkan rasa nyeri dan bengkak," kata Dekan Fakultas Farmasi Unpad itu.

Menurut Anas, pakis tangkur adalah tanaman liar yang tumbuh di ketinggian 2000-3000 meter dari permukaan laut. Uniknya, tanaman tersebut hanya ada di Gunung Tangkuban Perahu, Jawa Barat. "Di tempat lain nggak ada, saya sudah survey. Itu di lereng-lereng banyak sekali," katanya.

Oleh masyarakat sekitar gunung yang berada di kawasan wisata Bandung utara itu, akar pakis tangkur dijual dalam bentuk potongan kecil. (tempointeraktif)

Saturday, May 10, 2014

Beragam manfaat Ciplukan


Ciplukan bukanlah nama orang. Ini adalah sejenis tanaman yang berkhasiat obat. Selain daun, buah, batang dan akarnya pun punya daya menyembuhkan.

Ciplukan atau physallis peruviana.L memang tidak memiliki nama dalam bahasa Indonesia. Justru dalam bahasa daerah banyak istilahnya. Mulai dari ceplokan, keceplokan, ciciplukan, kopok-kopokan (Bali), cecendet, cecenet (Sunda), nyornyoran (Madura), Leletokan (Minahasa), Kenampok (sasak), dan lapunonat (Tanimbar, Seram).

Tumbuhan ini merupakan tumbuhan semak semusim, yang tergolong sebagai tanaman liar. Ciplukan bisa Anda temukan di tanah-tanah kosong yang tidak terlalu becek. Seperti pinggir selokan, pinggiran rel keretaapi, pinggir-pinggir kebun, dan lereng-lereng tebing sungai. Bisa tumbuh pada ketinggian 0-1.800 meter di atas permukaan laut.

Tumbuhan ini berdiri tegak dengan tinggi antara 30 cm sampai 50 cm dan berbatang berwarna hijau persegi, bercabang, dan berambut pendek. Daun berseling dan berlekuk, bertangkai 7-25 mm, dengan bentuk bundar telur memanjang dan ujung lancip. Ukuran panjang 3,5-10 cm dan lebar 2,5 cm.

Permukaan atas daun berwarna hijau dan permukaan bawah hijau muda dan berambut halus. Bunga buah keluar dari ketiak daun berwarna kekuning-kuningan. Buahnya berbentuk lentera, bila sudah masak berwarna kuning, rasanya manis agak keasam-asaman.

Dari Amerika
Ciplukan, sesuai dengan bentuknya yang mirip-mirip dengan buah-buah untuk lalapan seperti Labu Siam, dan Terung, termasuk dalam famili tumbuhan Solanaceae (terung-terungan). Tapi meski nama tumbuhan ini berbau bahasa Nusantara, boleh percaya atau tidak, ia berasal dari kawasan tropis Amerika Latin.

Namun, walaupun digolongkan sebagai terung-terungan, dia memiliki kandungan kimiawi seperti chlorogenik acid, asam sitrun dan fisalin. Selain itu, buahnya juga mengandung asam malat, alkaloid, tanin, kriptoxantin, vitamin C dan gula, juga elaidic acid.

Kandungan kimiawi tersebut, seperti obat-obatan modern, telah diuji melalui proses laboratorium dan diyakini bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Sesuai dengan sifatnya: analgetik, peluruh air seni, menetralkan racun (detoksifikasi), serta meredakan batuk. Dalam farmakologi Cina, tumbuhan ini diyakini memiliki rasa pahit dan sifat menyejukkan.

Hanya saja, yang patut disayangkan, entah karena masih ada orang yang belum mengerti akan khasiat tanaman obat, atau memang tidak tertarik sama sekali untuk mengembangkan budaya ramuan tradisional, seringkali, tanaman ini dibabat begitu saja seiring dengan pembersihan alang-alang dan tumbuhan liar lainnya.

Sebaliknya, bagi Anda yang berminat untuk membudidayakan tanaman ini, bisa dengan menggunakan bijinya. Biji disemai kemudian tanaman muda dipindahkan ke tempat penanaman. Pemeliharaan tanaman ini mudah, seperti tanaman lain dibutuhkan cukup air dengan penyiraman atau dengan menjaga kelembaban tanah. Di samping itu dibutuhkan pemupukan, terutama pupuk dasar.

Radang Kulit
Walaupun semua bagian dari Ciplukan mulai dari akar, daun, dan buah, bisa digunakan, yang menggembirakan, Ciplukan ini tidak mempunyai efek berbahaya termasuk racun sekalipun.

"Hanya saja memang karena Ciplukan itu pahit rasanya, perhatikan dosis penggunaannya. Agar tidak pahit terus," jelas dr.Setiawan Dalimartha, pakar tanaman obat yang juga praktek melayani pasien dengan metode herbal.

Menurut Setiawan, sebagai obat luar, Ciplukan juga bisa digunakan untuk menyembuhkan bisul, borok, dan peradangan kulit. "Tidak perlu dikeringkan. Bisa dari setelah mengalami proses direbus, didinginkan dan diborehkan langsung ke bagian yang memerlukan," lanjut Setiawan lagi.

Hal senada juga diungkapkan oleh Ir. W.P.Winarto, pemilik Kebun Tanaman Obat Karya Sari di kawasan Pondok Cabe, Tangerang. Menurutnya, Ciplukan tidak beracun. Hanya memang karena rasa pahitnya, rata-rata mereka yang meminum menganggap sama dengan meminum obat modern, yang umumnya pahit.

"Memang, adalah hal yang wajar. Namanya obat pasti pahit. Tetapi, prinsipnya pengaruh dari rasa pahit itu tidak akan mengganggu fungsi kerja organ tubuh kita. Misalnya ginjal," jelas Winarto dengan gamblang.

Penggunaan
1. Influenza dan Sakit Influenza Tenggorokan.
Tumbuhan Ciplukan (semua bagian) yang sudah dipotong-potong seukuran 3-4 cm dijemur, lalu dibungkus agar tidak lembab lagi. Kemudian ambil kira-kira sebanyak 9-15 gram direbus, airnya diminum. Lakukan sebanyak 3 kali sehari, atau sesuai kebutuhan dan atau petunjuk resep.

Resep nomor satu bisa juga diberlakukan terhadap beberapa penyakit, seperti: batuk rejan (pertusis), bronchitis (radang saluran napas), gondongan (paroritis), pembengkakan buah pelir (orchitis).

2. Kencing manis (diabetes). Sama dengan nomor satu. Tetapi pada saat merebus, rebuslah dengan 2 gelas air, hingga tersisa 1 gelas. Setelah dingin disaring, minum sekaligus pada pagi hari. Ampasnya bisa direbus sekali lagi, guna diminum pada sore harinya.

3. Sakit paru-paru. Sama dengan nomor satu. Saat merebus, gunakan 3-5 gelas air. Setelah mendidih, dinginkan dan saring, minum airnya 3 kali sehari.

4. Ayan. Buah Ciplukan 8 - 10 butir dimakan setiap hari.

Selain untuk penyakit dalam, Ciplukan juga bisa digunakan sebagai obat luar. Cara pemakaiannya:

1. Bisul. Daun Ciplukan sebanyak 1/2 genggam dicuci bersih lalu digiling halus. Turapkan pada bisul, lalu dibalut. Diganti 2 kali sehari

2.Borok. Daun Ciplukan sebanyak 1/2 genggam dicuci lalu digiling halus.(kompas)

Tanaman Sukun Bagi Kesehatan Jantung


Sukun sudah lama dikenal di tengah masyarakat Indonesia. Buahnya biasa digoreng dibuat keripik, atau direbus sebagai makanan kecil. Namun, ternyata tanaman yang tumbuh di sekitar kita tersebut mempunyai khasiat ampuh bagi kesehatan, terutama bagi jantung dan pembuluh darah.

Peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Tjandrawati M Ozef, dan rekan-rekannya telah mengadakan serangkaian penelitian mengenai khasiat daun sukun. Hasil penelitian itu disampaikan Tjandrawati dalam sebuah seminar di Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan beberapa waktu lalu.

Penyakit jantung dan pembuluh darah kian menjadi permasalahan besar seiring dengan perubahan gaya hidup masyarakat. Pola diet tinggi lemak hewani kurangnya aktivitas fisik dan kebiasaan buruk merokok menjadi beberapa faktor risiko pemicu gangguan jantung dan pembuluh darah.

Melihat kecenderungan tersebut, para peneliti LIPI menapis 42 tanaman yang dianggap berpengaruh terhadap sistem kardiovaskular. Pilihan meneliti lebih dalam jauh kepada sukun.

Seluruh bagian tanaman sukun mengandung senyawa flavonoid. Sejumlah turunan flavon telah berhasil diisolasi dan diidentifikasi dari bagian akar dan ranting tumbuhan tersebut sebelumnya. ”Tanaman itu mempunyai flavonoid yang khas,” ujarnya.

Sukun (Artocarpus altilis) termasuk dalam famili Moraceae alias keluarga Mulberry atau lebih sering dikenal sebagai bread fruit.

Tanaman tersebut tumbuh pada daerah tropis, seperti Indonesia, Thailand, Vietnam, dan Kamboja. Tjandrawati mengungkapkan, masyarakat Indonesia secara tradisional menggunakan daun sukun untuk pengobatan penyakit hati, inflamasi, jantung, ginjal, sakit gigi, dan gatal-gatal.

Masyarakat Taiwan secara tradisional menggunakan akar dan batangnya bagi pengobatan penyakit hati dan hipertensi. ”Masyarakat menggunakan sukun untuk pengobatan dengan merebus daunnya, tetapi masih kurang diketahui kandungan khusus yang bermanfaat besar, bagaimana cara penggunaannya, dan dosisnya,” ujarnya.

Berangkat dari pengalaman empiris masyarakat tersebut, Tjandrawati tertarik meneliti lebih dalam mengenai potensi daun sukun. Melalui penelitian panjang sejak tahun 2004, tanaman sukun berhasil dibuktikan khasiatnya. Dalam penelitian itu, daun sukun dibuat menjadi ekstrak. Komponen hasil ekstraksi dengan etanol, yakni tiga senyawa flavonoid dan Beta-sitoserol tersebut yang kemudian diteliti khasiatnya.

Studi khasiat terhadap daun sukun meliputi agregasi platelet (penggumpalan trombosit), viskositas darah (kekentalan darah) dan iskemia akut (kurangnya aliran darah pada jantung).

Studi itu juga mencakup atherosclerosis (penebalan dinding pembuluh darah akibat penumpukan lemak) yang mencakup akumulasi lipid (lemak) pada aorta, dan kolesterol darah.

Uji khasiat secara in vitro (dalam lingkungan buatan) maupun in vivo (dalam tubuh hidup) terhadap ekstrak tanaman tersebut menunjukkan hasil sangat baik.

Studi in vivo, misalnya, menyimpulkan bahwa ekstrak etil asetat yang mengandung flavonoid dan Beta-sitoserol dengan perbandingan 100 mg/kg dan 20 mg/kg dapat menghambat agresi platelet, mengurangi viskositas darah, dan melindungi melindungi jantung dari iskemia yang akut.

Selanjutnya, uji khasiat ekstrak etil asetat terhadap kadar kolesterol darah dan akumulasi lemak pada dinding pembuluh darah aorta pada tikus galur Wistar menunjukkan bahwa ekstrak etil asetat dosis 150 mg/ kg berat badan mampu menurunkan kadar kolesterol dalam darah secara signifikan.

Sukun juga mampu menghambat akumulasi lemak pada dinding pembuluh darah aorta. ”Tidak terjadi penimbunan lemak,” ujar Tjandrawati.

Daya racun

Dalam penelitian itu diuji pula daya racun dari ekstrak daun sukun tersebut. Kabar baiknya, uji toksisitas subkronis yang dilakukan selama 90 hari pada tikus putih galur Sprague Dawley menyimpulkan bahwa pemberian ekstrak etil asetat daun sukun dengan dosis bervariasi, yakni dosis uji 83,33 mg/kg berat badan per hari, 166,65 mg/kg berat badan per hari, dan 333,35 mg/kg berat badan per hari tidak memengaruhi fungsi jantung, ginjal, hati ataupun profil darah.

Uji toksisitas akut pada mencit ICR jantan dan betina menggunakan dosis tinggi total flavonoid 4,5 g/kg berat badan dan Beta-sitoserol 2,5 g/kg berat badan tidak menunjukkan penurunan berat badan, bahkan berat badan cenderung naik. Observasi terhadap perilaku hewan uji selama eksperimen seperti bagaimana hewan uji berjalan, makan, minum serta dan kecerahan mata dan bulu juga tidak menunjukkan tanda-tanda keracunan.

Tjandrawati mengatakan, dapat disimpulkan bahwa pemberian dosis tinggi total flavonoid dan Beta-sitoserol pada mencit ICR tidak menunjukkan efek toksik ada hewan uji.

Kepala Pusat Penelitian Kimia LIPI, Sugeng Broto mengatakan, prospek dari formula yang dikerjakan oleh LIPI tersebut sangat besar lantaran nantinya dapat diproduksi sebagai obat herbal terstandar dan fitofarmaka.

Kini, LIPI aktif meneliti sejumlah tanaman yang dipandang berkhasiat. Jika ingin dikembangkan menjadi fitofarmaka, masih dibutuhkan uji klinis. Ekstrak flavonoid dan Beta-sitoserol dari daun sukun itu sendiri kini telah dipatenkan.

Oleh INDIRA PERMANASARI-Kompas.com

Beragam Khasiat Sukun

SUKUN tak hanya dapat diolah menjadi makanan yang memiliki nilai jual, ternyata hampir seluruh bagian tanaman itu dapat dimanfaatkan untuk keperluan hidup manusia. Misalnya saja buahnya, yang dapat digunakan sebagai bahan makanan. Zaman dahulu di Hawaii sukun digunakan sebagai makanan pokok. Di Madura digunakan sebagai obat sakit kuning.

Sedangkan bunganya dipercaya dapat diramu sebagai obat. Bunganya dapat pula menyembuhkan sakit gigi dengan cara dipanggang lalu digosokkan pada gusi yang giginya sakit.

Untuk daunnya selain untuk pakan ternak, juga dapat diramu menjadi obat . Di India bagian barat, ramuan daunnya dipercaya dapat menurunkan tekanan darah dan meringankan asma.

Daun yang dihancurkan diletakkan di lidah dapat mengobati sariawan. Juice daun digunakan untuk obat tetes telinga. Abu daun digunakan untuk infeksi kulit. Bubuk dari daun yang dipanggang digunakan untuk mngobati limpa yang membengkak.

Getah

Selain itu, getah tanaman Sukun juga digunakan untuk mengobati penyakit kulit. Getah yang ditambah air jika diminum dapat mengobati diare. Di Caribia, getahnya digunakan sebagai bahan membuat permen karet.
Bahkan, kayunya pun juga sangat bermanfaat. Kayunya tidak terlalu keras tapi kuat , elastis dan tahan rayap, digunakan sebagai bahan bangunan antara lain mebel, partisi interior, papan selancar dan peralatan rumah tangga lainnya.

Sedangkan serat kulit kayu bagian dalam dari tanaman muda dan ranting dapat digunakan sebagai material serat pakaian. Di Malaysia digunakan sebagai mode pakaian.

Dari sekian banyak bagian tanaman Sukun, yang paling sering dimanfaatkan adalah daunnya. Secara empiris, banyak orang memanfaatkan daun sukun untuk mengatasi berbagai gangguan kesehatan. Selain menurunkan kadar kolesterol darah, ada pula yang menjadikannya sebagai solusi untuk menyelamatkan ginjal.

Caranya pun cukup sederhana dan mudah, yakni dengan merebus daun sukun yang telah dikeringkan. Air rebusan tersebut diminum setiap hari satu gelas. Selain baik untuk ginjal, daun sukun ternyata juga jitu untuk meredam laju kolesterol jahat dalam darah.

Daun Sukun diyakini mengandung beberapa zat berkhasiat seperti asam hidrosianat, asetilcolin, tanin, riboflavin, dan sebagainya. Zat-zat ini juga mampu mengatasi peradangan.

Selain itu, jantung daun Sukun juga bisa untuk mengobati penyakit jantung. Caranya, ambillah satu lembar daun Sukun tua yang masih menempel di pohon. Daun Sukun tua mempunyai kadar zat kimia maksimal.
Cucilah sampai bersih lalu dijemur hingga kering. Kemudian rebus sampai mendidih dengan lima gelas air dan sisakan sampai tinggal separuh. Tambahkan air lagi hingga mencapai volume lima gelas.

Setelah disaring, rebusan air itu siap diminum dan harus habis tak bisa disisakan untuk esok hari. Beberapa pakar obat tradisional memang meragukan khasiat daun sukun. Namun masyarakat sudah percaya dan membuktikan khasiat daun Sukun yang dapat menyembuhkan penyakit jantung dan ginjal.
Mungkin sekarang tak banyak orang yang menanamnya. Selain kurang ”menjualĂ®, masyarakat belum begitu tahu manfaat tanaman tersebut.

Sering dijumpai orang menebang pohon Sukun di pekarangannya, dan menggantinya dengan tanaman lain seperti pisang atau mangga. Padahal sesungguhnya Sukun sangat bermanfaat, mulai sekarang jangan sia-siakan pohon Sukun di pekarangan rumah Anda, karena selain lezat sebagai bahan makanan pohon sukun dapat anda jadikan apotek hidup bagi keluarga Anda.(Dela SY, -suaramerdeka.com )

Mengenal Manfaat Sukun

Secara empiris, banyak orang memanfaatkan daun sukun untuk mengatasi berbagai gangguan kesehatan. Selain menurunkan kadar kolesterol darah, ada pula yang menjadikannya sebagai solusi untuk menyelamatkan ginjal. Jika saja saran dari saudara dan kerabatnya tidak diindahkan, bukan tidak mungkin Arman harus menjalani cuci darah secara rutin. Bahkan, bisa jadi bapak dua anak ini harus kehilangan ginjalnya. Rebusan daun sukun yang rutin diminum mampu menyelamatkan ginjalnya dan menjamin rutinitas hariannya tetap berjalan.

Sebelum rutin minum ramuan daun sukun yang telah dikeringkan setengah tahun lalu, Arman mengeluhkan badannya mudah lelah, lesu, dan kesegaran wajahnya jauh berkurang. la juga tersiksa bila ingin buang air kecil. “Sungguh menyiksa, selain lama, keluarnya juga sedikit. Nunggunya yang berjam-jam itu benar-benar membuat saya tersiksa,” ungkapnya.

Hasil pemeriksaan dokter, kondisi ginjal sebelah kiri Arman termasuk parah. Tak hanya tersiksa saat buang air kecil, berat badannya juga turun drastis, dari 70 kg menjadi 55 kg. Kondisi inilah yang memuat Arman mencoba solusi lain. Meski awalnya muncul keraguan, saran dari saudaranya untuk minum rebusan daun sukun pun akhirnya dituruti. Ketika itu pria berusia 65 tahun ini merasa sudah mulai tak tahan lagi dengan derita yang dialami. Untunglah, meski kondisi satu ginjalnya cukup parah, Arman tidak harus menjalani cuci darah.

Menurut dokter, tak berfungsinya ginjal terjadi karena beberapa sebab. Diantaranya oleh endapan batu ginjal, pembesaran prostat, kencing manis, darah tinggi, atau penyakit imunologi. Dalam kasusnya, gagal ginjal disebabkan pembesaran prostat.

Secara medis, penurunan fungsi ginjal karena faktor usia pun akan lebih cepat berlangsung karena pembesaran prostat menyumbat saluran kemih. Seperti kebanyakan penderita, Arman baru mengeluh setelah fungsi ginjal berkurang 25-30 persen.

Sehari Segelas

Membuat ramuan rebusan daun sukun, menurut Arman, cukup sederhana dan mudah, yakni dengan merebus daun sukun yang telah dikeringkan. Air rebusan tersebut diminum setiap hari satu gelas. Diakui, mula-mula reaksinya belum terasa. Sebulan kemudian barulah terasa ada perubahan. “Badan mulai terasa lebih fit, lebih segar dan buang air kecil menjadi makin lancar,” tutur Arman.

Merasa sudah cocok dengan ramuan tersebut, ia pun meneruskan hingga sampai empat bulan. Hasilnya cukup bagus, keluhan sakit di pinggang yang dirasa sebelumnya juga jauh berkurang. Bahkan, hasil pemeriksaan dokter menyatakan, kondisi ginjalnya sudah jauh lebih baik dan sehat. Meski begitu, ia tetap rajin kontrol ke dokter, minimal satu atau dua bulan sekali.

Selain baik untuk ginjal, daun sukun ternyata juga jitu untuk meredam laju kolesterol jahat dalam darah. Seperti yang dialami oleh Imron. Menurutnya, setelah dua minggu, daun sukun mampu menurunkan kadar kolesterol darahnya.

Ramuannya sama dengan untuk ginjal, hanya ditambah bangle. Campuran segenggam daun sukun yang telah dikeringkan dan bangle diseduh dengan air panas, seperti halnya membuat teh. Diminum setiap hari sebagai pengganti teh. Hasilnya ternyata cocok untuk saya, papar pria pengusaha itu. Manfaat daun sukun memang sudah menjadi bagian dari sejarah pengobatan herbal Indonesia.

Daun sukun diyakini mengandung beberapa zat berkhasiat seperti asam hidrosianat, asetilcolin, tanin, riboflavin, dan sebagainya. Zat-zat ini juga mampu mengatasi peradangan.

Selain itu, secara empiris, daun sukun mampu menyelamatkan ginjal yang sakit. Sebuah riset yang dilakukan LIPI dengan peneliti asal Cina juga mengungkapkan, daun sukun sangat berguna bagi proses penyembuhan penyakit kardiovaskular.

Bambang Indro Mardi, ahli tanaman obat sekaligus pengobat alternatif dari Jakarta, mengakui bahwa daun sukun memiliki beragam manfaat untuk menjaga maupun meningkatkan kinerja ginjal, sebagai penurun kolesterol, sekaligus cocok untuk menjaga kesehatan pembuluh darah maupun jantung.

Sejauh ini banyak orang mengaku merasakan manfaat langsung dari daun sukun, terutama untuk gangguan ginjal, kolesterol, dan asam urat,” katanya. Artikel lainnya :Sukun termasuk dalam genus Artocarpus (famili Moraceae) yang terdiri atas 50 spesies tanaman berkayu, yang hanya tumbuh di daerah panas dan lembab dikawasan Asia Tenggara dan kepulauan Pasifik. Buahnya berbentuk bulat berkulit tebal dan kasar, dengan warna hijau muda dan kuning dengan berat sekitar 1,5 - 3 kg. Buah sukun bisa digunakan untuk bahan pangan. Orang biasa memanfaatkannya untuk makanan ringan, semisal direbus, digoreng, atau dibuat keripik dan kolak. Ada juga yang memanfaatkannya sebagai bahan baku tepung dan mi.

Tak banyak orang yang menanamnya. Selain kurang “menjual”, masyarakat belum begitu tahu manfaat tanaman tersebut. Sering dijumpai orang menebang pohon tersebut di pekarangannya, dan menggantinya dengan tanaman lain seperti pisang atau mangga. Tapi sesungguhnya sukun sangat bermanfaat. Daunnya mempunyai khasiat buat kesehatan, efektif untuk mengobati berbagai penyakit seperti liver, hepatitis, sakit gigi, gatal-gatal, pembesaran limpa, jantung, dan ginjal. Bahkan, masyarakat Ambon memanfaatkan kulit batangnya untuk obat mencairkan darah bagi wanita yang baru 8-10 hari melahirkan.

Daun tanaman tersebut mengandung beberapa zat berkhasiat seperti asam hidrosianat, asetilcolin, tanin, riboflavin, dan sebagainya. Zat-zat ini juga mampu mengatasi peradangan. Menyelamatkan Ginjal Ada juga yang menjadikan daun tersebut sebagai alternatif untuk menyelamatkan ginjal yang sakit. Caranya mudah, tapi harus telaten.

Langkah awal, siapkan tiga lembar daun yang berwarna hijau tua, namun masih menempel di dahan. Kemudian cuci bersih pada air mengalir. Selanjutnya dirajang lalu jemur sampai kering. Siapkan pula wadah lalu isi dengan air bersih dua liter. Usahakan wadah tersebut terbuat dari gerabah tanah liat, tapi jika pun tak ada bisa juga memakai panci stainless steel. Masukkan dedaunan kering itu lalu dimasak sampai mendidih, sisakan air tersebut sampai volumenya tinggal separuh. Selanjutnya, tambahkan air bersih satu liter, dan didihkan lagi sampai separuh.

Kemudian saringlah rebusan daun sukun itu. Warna airnya merah, mirip teh. Rasanya agak pahit. Silakan diminum sampai habis, tak boleh disisakan untuk kesesokan harinya. Demikian seterusnya. Agar tidak repot bolak-balik mengambil tiga lembar daun, sebaiknya sediakan rajangan daun sukun kering untuk seminggu. Caranya, siapkan lembar daun hijau tua sebanyak 3 x 7 = 21 lembar.

Proses selanjutnya persis seperti cara di atas, sehingga kita punya sejumlah rajangan daun sukun kering, tapi dibagi-bagi menjadi tujuh bungkus. Tiap hari ambil sebungkus, rebus, saring, dan minum. Jika Anda termasuk tak tahan pahit, bisa ditambahkan sedikit madu setiap kali minum.

Jantung Daun sukun juga bisa untuk mengobati penyakit jantung. Caranya, ambillah satu lembar daun sukun tua yang masih menempel di pohon. Daun sukun tua mempunyai kadar zat kimia maksimal. Cucilah sampai bersih lalu dijemur hingga kering. Kemudian rebus sampai mendidih dengan lima gelas air dan sisakan sampai tinggal separuh. Tambahkan air lagi hingga mencapai volume lima gelas. Setelah disaring, rebusan air itu siap diminum dan harus habis tak bisa disisakan untuk esok hari.

Beberapa pakar obat tradisional memang meragukan khasiat daun sukun. Namun masyarakat sudah percaya dan membuktikan khasiat daun sukun yang dapat menyembuhkan penyakit jantung dan ginjal.

Dalam buku Koleksi Tumbuhan Obat Kebun Raya Bogor, tanaman ini tidak termuat. Satu-satunya literatur yang mengungkap efek diuretik dan kardiotonik sukun hanya buku Indian Medicinal Plants. Itu pun hanya menyangkut buahnya. Apakah bahan kimia yang dikandungnya itu berkhasiat ? Tentu saja masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut oleh pihak-pihak yang terkait, karena memang obat tradisional dari tanaman dipercaya walaupun awalnya hanya cerita dari mulut ke mulut. Jadi, penelitian itu amat penting bagi dunia kesehatan. (oleh :Triono Widjajanto, bk3sjatim.org)

Tanaman Sukun : Kaya Gizi

Tanaman sukun memang masih dianggap "negatif" oleh banyak orang. Padahal, pohon satu ini tak kalah indah, selain kaya manfaat.

Sampai saat ini, masih banyak orang yang takut bertanam sukun di halaman rumah. Katanya, akar pohon sukun itu sifatnya menjalar ke mana-mana, akibatnya bisa macam-macam. Mendongkrak bangunan di atasnya, menjebol paving, pendek kata bikin bangunan di sekitarnya tak aman. Benarkah? Memang benar, tapi ada cara agar kondisi bangunan di sekitar pohon sukun tetap aman.

Caranya adalah dengan merekayasa teknik bertanamnya. Sedari awal, buat lubang tanam cukup besar dan dalam. Panjang dan lebar lubang tanam masing-masing 1 meter dengan kedalaman 2 meter. Biarkan 2 minggu dalam kondisi terbuka, lalu masukkan pupuk kandang sampai separuh volume lubang, lalu tunggu 2 minggu lagi.

Setelah itu, tanam bibit sukun dengan memasukkannya ke dalam lubang. Tinggi bibit yang hanya 30 - 50 cm dan dimasukkan ke dalam lubang sedalam itu, tentu membuatnya tak tampak dari luar. Tidak apa-apa, rawat terus hingga tumbuh membesar. Pada umur 6 bulan, pangkas batang pokok sukun, sisakan batangnya sekitar 60 - 75 cm di atas permukaan tanah.

Nah, dari pengalaman, pertumbuhan pohon sukun akan jadi pendek dan rimbun, bahkan bisa menjadi tanaman hias peneduh. Apalagi jika kita rajin melakukan pemangkasan rutin, sekurang-kurangnya 4 bulan sekali, pohon sukun pun akan makin banyak punya cabang dan kian rimbun. Dan yang paling menyenangkan, buah-buah sukun akan terus bergelantungan tanpa kenal musim. Memetiknya pun cukup dengan tangan telanjang.

KAYA KANDUNGAN GIZI

Telah lama sukun dimanfaatkan sebagai bahan pangan, dari yang sederhana sampai yang diolah. Misalnya direbus, dikukus, atau diiris-iris lalu digoreng. Ada juga yang dibuat keripik sukun sebagai cemilan. Lebih dari itu, kini sudah dijual tepung sukun, yang bisa langsung dimanfaatkan untuk kue talam, bubur sumsum, bolu, cake, dan sebagainya.

Bagaimana perbandingan kandungan gizi antara buah sukun dengan tepung sukun? Ternyata sangat mencolok, nilai gizi tepung sukun lebih gizi ketimbang buah sukun tua. Kandungan karbohidrat, kalsium, fosfor, vitamin B1 dan C dalam tepung sukun juga melebihi terigu.

Pertanyaannya, bila tepung sukun lebih unggul kandungan gizinya, maka apa artinya bagi kesehatan tubuh kita? Sebut peranan fosfor misalnya, yang antara lain berfungsi untuk membangun dan memelihara gigi dan tulang-tulang. Fosfor bersama-sama dengan zat belerang dan chlor dalam tubuh membentuk unsur asam. Saban harinya kebutuhan fosfor bagi orang dewasa sekitar 0,9-1,3 gram. Dan hal itu bisa dicukupi dengan mengonsumsi makanan berbahan tepung sukun.

Sedangkan peranan kalsium antara lain membantu menggumpalkan atau mengentalkan darah, serta membersihkan keasaman darah. Orang dewasa membutuhkan kalsium sekitar 0,5 - 1 gram per hari, sedangkan bagi wanita hamil atau menyusui sekurang-kurangnya 750 gram per hari. Itulah sebabnya, wanita hamil atau menyusui layak menikmati makanan berasal dari olahan tepung sukun.

Mengonsumsi tepung sukun yang mengandung vitamin B1 dapat memelihara kesehatan kornea mata, jaringan urat saraf, jaringan pelapis, jaringan kulit, dan menurunkan kadar asam lemak. Sebab, vitamin B1 adalah vitamin yang mengandung unsur belerang yang setelah diserap oleh dinding usus di dalam hati dan diikat oleh zat fosfor. Vitamin B 1 ini memang tidak banyak disimpan dalam tubuh, tapi tetap diperlukan, sehingga setiap hari perlu mendapat tambahan langsung. Jadi, seandainya kita setiap hari mengonsumsi makanan olahan tepung sukun, jelas kebutuhan tubuh kita akan vitamin B1 terpenuhi.

ATASI BATU GINJAL

Siapa pun pasti tak mau ginjalnya terganggu. Namun, seringkali, tanpa terasa, ginjal sudah tidak berfungsi. Ada macam-macam sakit ginjal, salah satunya adalah batu ginjal. Efek batu ginjal akan membuat ginjal terinfeksi. Lazimnya, ini bisa disembuhkan dengan obat antiradang dan antibiotik.

Daun sukun mengandung beberapa zat berkhasiat seperti asam hidrosianat, asetilcolin, tanin, riboflavin, dan sebagainya. Dan zat-zat ini juga mampu mengatasi peradangan. Secara empirik, memang benar daun-daun sukun mampu menyelamatkan ginjal yang sakit. Caranya mudah, tapi harus telaten.

Ambil 3 lembar daun hijau tua namun masih menempel di dahan. Cuci bersih pada air mengalir. Ambil pisau untuk merajang daun-daun itu, lalu jemur sampai kering. Siapkan wadah lalu isi dengan air bersih 2 liter. Kalau bisa, wadah terbuat dari gerabah tanah, tapi bisa juga memakai panic stainless steel. Didihkan sampai volume air tinggal separuhnya. Selanjutnya, tambahkan air bersih 1 liter, dan didihkan lagi sampai separuh. Ambil dan saringlah. Warna air rebusan daun sukun adalah merah, mirip teh. Rasanya agak pahit. Silakan minum rebusan sampai habis di hari itu. Demikian seterusnya, dan ginjal pun akan sehat kembali.

Agar Anda tidak repot bolak-balik mengambil 3 lembar daun, sebaiknya stok rajangan daun sukung kering untuk seminggu. Caranya, siapkan lembar daun hijau tua sebanyak 3 x 7 = 21 lembar. Lalu, persis dengan cara di atas, hingga Anda punya sejumlah rajangan daun sukun kering, tapi dibagi-bagi menjadi 7 bungkus. Tiap hari ambil sebungkus, rebus, saring, dan minum. Jika Anda termasuk tak tahan pahit, bisa ditambahkan sedikit madu setiap kali minum.

(sumber : NOva)

Mengenal Tanaman Sukun

Sukun adalah nama sejenis pohon dan buahnya sekali. Buah sukun tidak berbiji dan memiliki bagian yang empuk, yang mirip roti setelah dimasak atau digoreng. Karena itu, orang-orang Eropa mengenalnya sebagai "buah roti" (Ingg.: breadfruit; Bld.: broodvrucht, dll.).

Sukun sesungguhnya adalah kultivar yang terseleksi sehingga tak berbiji. Kata "sukun" dalam bahasa Jawa berarti "tanpa biji" dan dipakai untuk kultivar tanpa biji pada jenis buah lainnya, seperti jambu klutuk dan durian. "Moyangnya" yang berbiji (dan karenanya dianggap setengah liar) dikenal sebagai timbul, kulur (bahasa Sunda), atau kluwih (bahasa Jawa). Di daerah Pasifik, kulur dan sukun menjadi sumber karbohidrat penting. Di sana dikenal dengan berbagai nama, seperti kuru, ulu, atau uru. Nama ilmiahnya adalah Artocarpus altilis.

Sukun adalah nama sejenis pohon dan buahnya sekali. Buah sukun tidak berbiji dan memiliki bagian yang empuk, yang mirip roti setelah dimasak atau digoreng. Karena itu, orang-orang Eropa mengenalnya sebagai "buah roti" (Ingg.: breadfruit; Bld.: broodvrucht, dll.).


Sukun sesungguhnya adalah kultivar yang terseleksi sehingga tak berbiji. Kata "sukun" dalam bahasa Jawa berarti "tanpa biji" dan dipakai untuk kultivar tanpa biji pada jenis buah lainnya, seperti jambu klutuk dan durian. "Moyangnya" yang berbiji (dan karenanya dianggap setengah liar) dikenal sebagai timbul, kulur (bahasa Sunda), atau kluwih (bahasa Jawa). Di daerah Pasifik, kulur dan sukun menjadi sumber karbohidrat penting. Di sana dikenal dengan berbagai nama, seperti kuru, ulu, atau uru. Nama ilmiahnya adalah Artocarpus altilis.


Tentang Sukun

Pohon sukun (atau pohon timbul) umumnya adalah pohon tinggi, dapat mencapai 30 m, meski umumnya di pedesaan hanya belasan meter tingginya. Hasil perbanyakan dengan klon umumnya pendek dan bercabang rendah. Batang besar dan lurus, hingga 8 m, sering dengan akar papan (banir) yang rendah dan memanjang.

Bertajuk renggang, bercabang mendatar dan berdaun besar-besar yang tersusun berselang-seling; lembar daun 20-40 × 20-60 cm, berbagi menyirip dalam, liat agak keras seperti kulit, hijau tua mengkilap di sisi atas, serta kusam
, kasar dan berbulu halus di bagian bawah. Kuncup tertutup oleh daun penumpu besar yang berbentuk kerucut. Semua bagian pohon mengeluarkan getah putih (lateks) apabila dilukai.

Perbungaan dalam ketiak daun, dekat ujung ranting. Bunga jantan dalam bulir berbentuk gada panjang yang menggantung, 15-25 cm, hijau muda dan menguning bila masak, serbuk sari kuning dan mudah diterbangkan angin. Bunga majemuk betina berbentuk bulat atau agak silindris, 5-7 × 8-10 cm, hijau. Buah majemuk merupakan perkembangan dari bunga b
etina majemuk, dengan diameter 10-30 cm. Forma berbiji (timbul) dengan duri-duri lunak dan pendek, hijau tua. Forma tak berbiji (sukun) biasanya memiliki kulit buah hijau kekuningan, dengan duri-duri yang tereduksi menjadi pola mata faset segi-4 atau segi-6 di kulitnya.

Biji timbul berbentuk bulat atau agak gepeng sampai agak persegi, kecoklatan, sekitar 2,5 cm, diselubungi oleh tenda bunga. Sukun tidak menghasilkan bi
ji, dan tenda bunganya di bagian atas menyatu, membesar menjadi 'daging buah' sukun.

Hasil dan kegunaan

Buah sukun (tak berbiji) merupakan bahan pangan penting sumber karbohidrat di pelbagai kepulauan di daerah tropik, terutama di Pasifik dan Asia Tenggara. Sukun dapat dimasak utuh atau dipotong-potong terlebih dulu: direbus, digoreng, disangrai atau dibakar. Buah yang telah dimasak dapat diiris-iris dan dikeringkan di bawah matahari atau dalam tungku, sehingga awet dan dapat disimpan lama. Di pulau-pulau Pasifik, kelebihan panen buah sukun akan dipendam dalam lubang tanah dan dibiarkan berfermentasi beberapa minggu lamanya, sehingga berubah menjadi pasta mirip keju yang awet, bergizi dan dapat dibuat menjadi semacam kue panggang. Sukun dapat pula dijadikan keripik dengan cara diiris tipis dan digoreng.

Sukun dapat menghasilkan buah hingga 200 butir per pohon
per tahun. Masing-masing buah beratnya antara 400-1200 g, namun ada pula varietas yang buahnya mencapai 5 kg. Nilai energinya antara 470-670 kJ per 100 gram. Tidak mengherankan bila sukun menarik minat para penjelajah Barat, yang kemudian mengimpor tanaman ini dari Tahiti ke Amerika tropis (Karibia) pada sekitar akhir 1780an untuk menghasilkan makanan murah bagi para budak di sana.

Daging buah yang telah dikeringkan dapat dijadikan tepung dengan kandungan pati sampai 75%, 31% gula, 5% protein, dan sekitar 2% lemak.

Timbul, kulur, atau kluwih (yang berbiji) lebih banyak dipetik tatkala muda, untuk dijadikan sayur lodeh, sayur asam, atau ditumis dengan cabai. Biji timbul yang tua juga kerap direbus, digoreng, atau disangrai untuk dijadikan camilan.

Daun-daunnya dapat dijadikan pakan ternak. Kulit batangnya menghasilkan serat yang bagus yang pada masa lalu pernah digunakan sebagai bahan pakaian lokal. Getahnya digunakan untuk menjerat burung, menambal (memakal) perahu, dan sebagai bahan dasar permen karet. Kayu sukun atau timbul berpola bagus, ringan dan cukup kuat, sehingga kerap digunakan sebagai bahan alat rumah tangga, konstruksi ringan, dan membuat perahu.


Penyebaran dan ekologi

Asal-usul sukun diperkirakan dari kepulauan Nusantara sampai Papua. Mengikuti migrasi suku-suku Austronesia sekitar 2000 tahun sebelum Masehi, tanaman ini kemudian turut menyebar ke pulau-pulau di Pasifik. Diperkirakan pada masa perdagangan rempah di akhir zaman Majapahit, sukun menyebar ke Jawa dari Maluku. Karena pengaruh kolonisasi bangsa-bangsa Eropa, sukun ini lalu menyebar ke barat antara tahun-tahun 1750-1800 ke Malaysia, India, Srilangka, Mauritius, dan pada 1899 tiba di Afrika. Kini sukun telah menyebar luas di berbagai belahan dunia terutama di lingkar tropis.

Sukun menyukai iklim tropis: suhu panas (20-40˚C), banyak hujan (2000-3000 mm pertahun) dan lembab (lengas nisbi 70-90%), dan lebih cocok di dataran rendah, di bawah 600 m dpl., meski dijumpai sampai sekitar 1500 m dpl. Anakan pohon lebih baik tumbuh di bawah naungan, namun kemudian membutuhkan matahari penuh untuk tumbuh besar. Meskipun kebanyakan kultivarnya akan tumbuh dengan baik pada tanah-tanah aluvial yang subur, dalam dan berdrainase baik, akan tetapi variasi kemampuannya sangat besar. Maka ada varietas-varietas yang tumbuh baik di tanah berawa, tanah kapur, tanah payau dan lain-lain.

Ada yang mengatakan bahwa daun sukun yang telah tua dan gugur, dapat digunakan untuk pengobatan tradisional pembesaran prostat, menurunkan gula darah, serta pengobatan gagal ginjal. Namun hal ini belum dilakukan penelitian lebih lanjut.


Bahan bacaan

* Smith, N.J.H, J.T. Williams, D.L. Plucknett, and J.P. Talbot. 1992. Tropical Forest and Their Crops. Cornell Univ., Ithaca. ISBN 0-8014-8058-2.
* Verheij, E.W.M. dan R.E. Coronel (eds.). 1997. Sumber Daya Nabati Asia Tenggara 2: Buah-buahan yang dapat dimakan. PROSEA – Gramedia. Jakarta. ISBN 979-511-672-2.
(sumber : wikipedia)

Tuesday, March 18, 2014

Ciplukan (Physalis peruviana) : Obat Herbal Untuk Penyakit Hipertiroid


Ciplukan adalah Tanaman asal Peru itu tumbuh di ladang atau lahan kosong. Buahnya bulat tertutup dalam kantong mirip lampion. Sekilas bentuknya persis kantong kemih. Anggota famili Solanaceae itu terbukti ampuh mengatasi hipertiroid. Ciplukan mengandung senyawa asam sitrun, fisalin, asam malat, alkaloid, tanin, kriptoxantin, dan vitamin C. Di Indonesia belum ada riset ilmiah yang membuktikan kemujaraban kerabat tomat itu.

Namun, di mancanegara banyak ahli menelitinya. Mahmood Vessal dari Departemen Biokimia Shiraz University of Medical Sciences, Iran, misalnya, membuktikan keampuhan ciplukan mengatasi hipertiroid. Ia menginjeksi ekstrak ciplukan ke tikus betina dewasa. Hasilnya, aktivitas lysyl-aminopeptidase (Lys-AP) pada pituari meningkat 50% dan 45% basomedial hypothalamus (BMH). Nilai itu mirip dengan pemberian beta estradiol 15 ?g selama 5-8 hari ke tikus.

Jika tikus diberikan beta estradiol sekaligus larutan ciplukan meningkatkan aktivitas enzim pituitari sebanyak 9% dan hipotalamus 5%. Dengan meningkatnya aktivitas enzim hipotalamus dan pituari, sekresi TSH yang tidak beraturan dapat dicegah. Departemen Farmasi Universitas Cartagena, Kolumbia menemukan ciplukan bersifat imunomodulator alias peningkat kekebalan dan juga antipembengkakan. Tumbuhan yang di sini disia-siakan itu ternyata berkhasiat mengatasi hipertiroid.(Trubus).

Herbal lain yang membantu menyeimbangkan hormonal termasuk hormon endokrin tiroid adalah Lepidium yang juga berasal dari Peru (Lepidium Peruvianum)


Berikut Cerita Lengkapnya Yang di Ambil dari Majalah Trubus.

Ciplukan (Physalis peruviana) : Obat Herbal Untuk Penyakit Hipertiroid

Riau, Jakarta, Singapura. Itulah kota-kota tempat Albertus Suharno mencari kesembuhan. 'Bola mata berputar dan serasa akan keluar,' kata pria kelahiran Yogyakarta, 8 Agustus 1944 itu. Suhu tubuhnya 40 oC, jakun membesar, dan sekujur tubuh bergetar.

Albertus Suharno langsung mendatangi dokter perusahaan di Batam, Riau. Ia bekerja sebagai penyelia di perusahaan minyak asing. Hasil diagnosis menyebutkan Suharno positif hipertiroid. 'Dokter juga tidak tahu penyebabnya, tapi yang paling mungkin adalah stres akibat pekerjaan,' kata suami Sri Widawati itu. Walau sakit, karyawan yang bertanggung jawab terhadap operasional pengeboran tetap bekerja.

Setiap akhir pekan, ia terbang ke Jakarta untuk memeriksakan diri ke Rumah Sakit Pusat Pertamina sesuai rujukan dokter perusahaannya. 'Awalnya, saya juga dirawat inap di rumahsakit itu selama 2 minggu,' kata Suharno. Saat itu, ia diberi radioaktif yodium. Setelah mengkonsumsi kapsul cair berwarna bening itu, kerabatnya yang masih kecil, perempuan hamil, dan lanjut usia dilarang menjenguk. Sebab, obat itu berefek radiasi yang mampu mengubah peta gen.
Hiperaktif

Menurut Prof dr Slamet Suyono SpPD-KE, endokrinologis Rumahsakit Cipto Mangunkusumo Jakarta, radioaktif yodium diberikan oral dalam bentuk pil atau cairan. Gunanya untuk mengatasi kelenjar yang hiperaktif. 'Lebih dari 80% pasien hipertiroid sembuh dengan dosis tunggal yodium radioaktif,' katanya. Setelah mengkonsumsi pil radioaktif, tiroid Suharno memang mengempis.

Selain itu, suhu tubuh normal dan gemetar pada tubuh pun hilang. Sayang, seminggu setelah pulang ke Batam, penyakit itu kambuh kembali disertai rambut rontok. Menurut Prof Slamet Suyono rontoknya rambut akibat obat radiasi untuk mengatasi hipertiroid. Disebut hipertiroid bila kadar hormon T4 melebihi ambang normal, 4,3-12,4 ug/dl. Tiroid adalah kelenjar berbentuk kupu-kupu di leher, di bawah jakun. Bobotnya kurang dari 28,4 g.

Meski ringan, jangan anggap enteng tiroid alias gondok. Jika tiroid rusak menimbulkan dampak besar bagi tubuh. Setiap aspek metabolisme tubuh, dari detak jantung, pertumbuhan tinggi badan, hingga kecepatan tubuh membakar kalori, melibatkan kerja hormon pada tiroid. 'Terganggunya fungsi tiroid menyebabkan metabolisme tubuh terhambat,' kata endokrinologis alias ahli penyakit dalam yang berhubungan dengan hormon itu. Kelainan itu disebut trauma kelenjar.

Disebut rusak jika fungsi kelenjar menyimpang dari fungsinya untuk memproduksi dua macam hormon, T4 dan T3. Kondisi kelainan kelenjar bermacam-macam, yakni hipotiroid, hipertiroid, dan eutiroid. Hipo artinya kelenjar gagal memproduksi hormon seperti keadaan normal. Eutiroid terjadi bila kelenjar membesar, tapi fungsinya berjalan normal. Hipertiroid justru sebaliknya, kelenjar terlalu aktif memproduksi hormon hingga kadar T3 dan T4 melambung. Bobot tubuh pasien hipertiroid biasanya anjlok, mata melotot, dan badan sering berkeringat. Penderita juga sering marah-marah karena tidak bisa mengendalikan emosi.
Tinggi

Hipertiroid mempengaruhi fungsi kelenjar hipotalamus dan testis. Beberapa penyebab hipertiroid adalah penyakit graves, berlebihnya konsumsi hormon tiroid, terjadi peradangan pada kelenjar tiroid, atau sekresi TSH (thyroid stimulating hormone) oleh kelenjar pituitari secara abnormal.

Karena tak kunjung membaik, Suharno mencari kesembuhan ke Singapura. Dokter Mount Elizabeth Hospital, Singapura, mengatakan Suharno memang terjangkit hipertiroid. Itu sesuai hasil laboratorium yang menunjukkan nilai hormon tiroid T4 sebesar 18,0 ug/dl. Nilai FTI sebesar 21,4 ug/dl; kadar normal, 3,9-14,0 ug/dl. Sedangkan T3 sebesar 567 ng/dl; normal 80-220 ng/dl nilai TSH hanya 0,03 uIU/ml; kadar normal, 0,50-4,00 uIU/ml.

Dengan hasil laboratorium itu, dokter memberikan kembali pil radioaktif yodium 131 sebanyak 2 kali dan menyuruh mengkonsumsi propylthiouracil (PTU) 100 mg selama 2 pekan. Ia menjalani perawatan di Singapura 6 kali dalam 3 bulan. Hasilnya, bukan kesembuhan yang didapat tetapi tubuh menghitam dan kurus. Bobotnya tersisa 48 kg; sebelum sakit, 54 kg.

Bahkan nilai T3 tetap di atas ambang batas, yaitu 383 ng/dl; FTI 14,2 ug/dl, dan TSH kurang dari 0,03 uIU/ml. Suharno hampir putus asa mencari kesembuhan dengan obat kimia. Oleh karena itu ia menuruti saran temannya, Karno, untuk mengkonsumsi ciplukan. Tanaman asal Peru itu tumbuh di ladang atau lahan kosong. Buahnya bulat tertutup dalam kantong mirip lampion. Sekilas bentuknya persis kantong kemih.

Itulah sebabnya ia diberi nama ilmiah Physalis peruviana. Dalam bahasa Yunani physalis berarti kantong kemih. 'Untung ada tanaman ciplukan di sekitar rumah,' kata Suharno yang tinggal di Cibinong, Kabupaten Bogor. Ayah 4 anak itu mencabut 3 tanaman setinggi rata-rata 50 cm beserta akarnya. Kemudian, pria 64 tahun itu mencuci bersih dan merebus ke-3 tanaman itu, termasuk buah dan akar, dalam 3 gelas air hingga mendidih dan tersisa 1 gelas.
Ampuh

Ia meminum segelas ramuan itu 1 kali sehari. Dua hari kemudian kegiatan mengekstrak ramuan ciplukan berulang. 'Rasanya sangat pahit,' kata kakek 1 cucu itu. Sehari setelah 2 kali konsumsi ekstrak ciplukan, Suharno merasakan perubahan. Seluruh gejala penyakit yang hinggap di tubuhnya hilang. Saat bangun tidur, ia tak merasakan kelelahan.

Jantung yang semula berdetak kencang atau tidak teratur alias palpitasi, suhu tubuh tinggi, gelisah, berkeringat, sesak napas, tangan gemetaran, dan otot lemah semuanya membaik. Yang menakjubkan jakunnya kempis. Sejak itu ia sembuh dari hipertiroid. Sudah 16 tahun penyakit itu tak pernah kembali merasuki tubuh Suharno.

Anggota famili Solanaceae itu terbukti ampuh mengatasi hipertiroid. Ciplukan mengandung senyawa asam sitrun, fisalin, asam malat, alkaloid, tanin, kriptoxantin, dan vitamin C. Di Indonesia belum ada riset ilmiah yang membuktikan kemujaraban kerabat tomat itu.

Namun, di mancanegara banyak ahli menelitinya. Mahmood Vessal dari Departemen Biokimia Shiraz University of Medical Sciences, Iran, misalnya, membuktikan keampuhan ciplukan mengatasi hipertiroid. Ia menginjeksi ekstrak ciplukan ke tikus betina dewasa. Hasilnya, aktivitas lysyl-aminopeptidase (Lys-AP) pada pituari meningkat 50% dan 45% basomedial hypothalamus (BMH). Nilai itu mirip dengan pemberian beta estradiol 15 ?g selama 5-8 hari ke tikus.

Jika tikus diberikan beta estradiol sekaligus larutan ciplukan meningkatkan aktivitas enzim pituitari sebanyak 9% dan hipotalamus 5%. Dengan meningkatnya aktivitas enzim hipotalamus dan pituari, sekresi TSH yang tidak beraturan dapat dicegah. Departemen Farmasi Universitas Cartagena, Kolumbia menemukan ciplukan bersifat imunomodulator alias peningkat kekebalan dan juga antipembengkakan. Tumbuhan yang di sini disia-siakan itu ternyata berkhasiat mengatasi hipertiroid.(Trubus).

Herbal lain yang membantu menyeimbangkan hormonal termasuk hormon endokrin tiroid adalah Lepidium yang juga berasal dari Peru (Lepidium Peruvianum)

Wednesday, August 14, 2013

Akar Yellow Dock Root : Untuk Pengobatan Hati & Kandung Empedu

Yellow Dock adalah herbal asli Erofa yang telah dikenal secara turun temurun sebagai tanaman medis. Bagian yang digunakan untuk pengobatan adalah akar, yang banyak dgunakan untuk mengatasi penyakit liver, kandung empedu, kulit dan pembersih darah.

Nama ilmiahnya adalah Rumex crispus L. [Fam. Polygonaceae].

Secara tradisional, digunakan untuk :

* Anemia
* Anti diare
* Anti peradangan
* Antioksidan
* Defesiensi empedu
* Pembersih darah
* Pembuangan racun
* Gangguan pencernaan
* Diuretik (membuang kelbihan cairan tubuh yang tertahan)
* Masalah kosntipasi (sulit buang air besar)
* Laksatif
* Menjaga kesehatan hati
* Psoriasis (penyakit kulit)
* Gangguan kulit
* Skorbut (sariawan)
* Gangguan sistem imun
* Gangguan jantung & pembuluh darah


Sekarang banyak digunakan untuk :

* Sebagai produk detoks
* Memperbaiki fungsi hati, kandung empedu, ginjal, pencernaan dan peredaran darah
* Meningkatkan produksi empedu untuk memecah makanan berlemak
* Sebagai diuretik ringan dan laksatif untuk mengeluarkan racun
* Mengurangi peradangan dan iritasi usus.


Ulasan :

Secara tradisonal digunakan untuk memberikan nutrisi dan mendetoks (membersihkan sampah atau racun) pada hati, kandung empedu, dan kelenjar getah bening serta membersihkan darah. Secara tardisonal juga digunakan untuk mengobati anemia (kurang darah), anthrax, diare, eksim, demam, neyri, malaria, rematik, cacing gelang, dan tuberkolusis.

Menurut Dr. James Duke dan Stephen Foster di Medicinal Plants (1990), herbalis sering merekomendasikan teh dari akar ini untuk mengobati gangguan liver atau hati, kelainan kulit kronis, pembesaran kelenjar limfa, luka di kulit, rematik, dan radang tenggorokan. Pada dosis rendah herbal ini bermanfaat untuk mengatasi diare. Kandungan taninnya yang tinggi bermanfaat untuk mengatasi diare dan pendarahan menstruasi yang berat.Tapi kalau digunakan dalam dosis tinggi dapat berfungsi sebagai laksatif, yang merangsang BAB.

Didalam Yellow Dock mengandung beberapa anthraquinone, yang efektif berfungsi sebagai antioksidan dan pelindung dari serangan radikal bebas. Anthraquinone juga dapat mengentikan pertumbuhan cacing pita dan jamur.

Glikosida anthraquinone, yang dikandung Yellow Dock juga merangsang pengeluaran empedu dan enzim pencernaan.

Tanaman ini juga mengandung senyawa antibakteri yang kuat yaitu rumicin, yang efektif melawan Escherichia, Salmonella dan Staphylococcus. Ekstrak Ethanol dan ether dari daun yellow dock, secara signifikan dapat berfungsi sebagai antibakteri yang melawan Staphylococcus aureus dan Bacillus subtilis.

Kandungan aktif :

Herbal Yellow dock, mengandung anthraquinone (yang meliputi emodin, aloe emodin, chrysophanol, rhein, dan physcion); rutin, glikosida flavone, vitamin C dan beberapa karoten (meliputi beta karoten), chlorophyll, asam organik (malic, oxalic, tannic, tartaric dan citric) dan phytoestrogen. Mineral meliputi kalsium; phosphor; magnesium; potassium,silicon, zat besi, sulphur, copper, iodine, manganese, dan zinc.

Akar Yellow dock mengandung 2-4% anthraquinone ( meliputi chrysophanol, emodin, nepodin dan physcion (aglycones)). Tannin seperti atechol (5%) (jenis kondensasi). Ada juga minyak volatilnya. (ndr-cariobat.blogspot.com)

Referensi :

1. Duke JA. 1985. Rumex crispus L. In Handbook of Medicinal Herbs. CRC Press, Boca Raton, FL, pp. 414-415.
2. Fairbairn JW, and Muhtadi FJ. 1972. Chemotaxonomy of Anthraquinones in Rumex. Phytochemistry 11: 263-268.
3. Gunaydin K, Topcu G, Ion RM. 2002. 1,5-dihydroxyanthraquinones and an anthrone from roots of Rumex crispus. Nat Prod Lett. 2002 Feb; 16(1): 65-70.
4. Turner N, and Kuhnlein H. 1991. Traditional plant foods of Canadian indigenous peoples. Nutrition, botany and use. In Food and Nutrition in History and Anthropology Vol. 8. Gordon & Breach Science Publishers, Philadelphia, PA, p. 222.
5. Yildirim A, Mavi A, Kara AA. 2001. Determination of antioxidant and antimicrobial activities of Rumex crispus L. extracts. J Agric Food Chem. 2001 Aug; 49(8): 4083-9.

Thursday, December 30, 2010

Sirup Meniran Atasi Demam Berdarah


JANGAN sekali-kali memandang remeh tanaman liar di pinggiran jalan, karena bisa jadi tanaman itu memiliki manfaat obat.
    
Contohnya Meniran yang dalam bahasa Latin dikenal dengan sebutan "Phyllanthus Urinaria" yang mempunyai batang berwarna hijau kemerahan.
Tumbuhan ini memiliki kandungan yang bisa meningkatkan trombosit darah, sehingga cocok menjadi obat alternatif bagi penderita Demam Berdarah Dengue (DBD).
    
Adalah lima mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya yang melakukan penelitian terkait kandungan Meniran itu.

Lima peneliti muda ITS itu adalah M. Burhan Rosyidi, Idya Rachmawati, Tyas Wulan Sari, Angga Premana dan M Herman Eko.


Mereka memiliki ide membuat ekstrak Meniran menjadi sirup yang bisa dikonsumsi untuk penderita DBD.

Ide penelitian itu pun diajukan ke Direktorat Pendidikan Tinggi (Dikti) Depdiknas RI lewat Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) setahun silam dan akhirnya didanai.

Untuk mengawali penelitian, Idya dan keempat rekannya mengumpulkan Meniran. "Kami cukup mengumpulkan Meniran yang ada di sekitar kampus saja," ucapnya.

Menurut mahasiswa Biologi ITS itu, ide pemanfaatan Meniran itu tak terlepas dari mudahnya tanaman itu ditemukan, termasuk di kampus.

"Meniran itu tumbuh liar dan hampir ada di setiap pinggir jalan, bahkan di ladang yang kering juga bisa ditemui," paparnya.

Ekstraksi-destilasi
Dari studi literatur, mereka mengetahui bila tanaman yang mengandung "flavonoid" itu berkhasiat meningkatkan trombosit darah.

"Flavonoid itu mampu meningkatkan zat antibodi yang berguna dalam pembentukan trombosit darah, zat itu pula yang terkandung dalam jambu biji," kata peneliti muda lainnya, Burhan.

Dalam penelitian itu, mereka mencoba mengekstraksi Meniran untuk memperoleh flavonoid, lalu membuat formulasi dan mengujinya pada sampel uji yang sudah diinfeksi virus DBD.

Untuk melakukan ekstraksi, Laboratorium Kimia Organik menjadi sasaran kelima mahasiswa itu, guna mendapatkan kandungan flavonoid murni.

Proses itu ternyata tidak mudah. "Kami kadang harus mendestilasi Meniran hingga larut, kemudian ada beberapa proses lagi seperti kromatografi kolom untuk pembuktian akhir adanya flavonoid," kilahnya.

Mahasiswa asal Gresik itu menuturkan pekerjaan selanjutnya adalah melihat hasil peningkatan trombosit pada hewan uji (tikus besar) yang telah disuntik flavonoid.

"Untuk melihat apakah trombosit tersebut meningkat, maka sumsum tulang belakang dari tikus besar itu dibedah. Dari kepingan sumsum tulang belakang itu bisa diketahui berapa jumlah trombosit dengan penambahan Nacl terlebih dahulu," katanya.

Setelah itu, tim peneliti muda itu melakukan perbandingan dan diketahui bila jumlah trombosit hewan yang diuji dengan ekstrak Meniran mengalami kenaikan lebih besar dibandingkan dengan yang tidak.

"Penelitian tidak berhenti, karena kami masih memerlukan ekstrak murni flavonoid Meniran untuk dibuat menjadi sirup, sehingga perlu ditambahkan beberapa zat lagi," katanya.

Kelima peneliti muda dari ITS itu berharap Meniran nantinya bisa dimanfaatkan sebagai obat bagi manusia melalui formulasi dosis lebih lanjut yang layak untuk konsumsi manusia, tapi konsumsi secara langsung untuk lalapan juga tak apa.

Kompas,Selasa, 3 Maret 2009

Sisik Naga, Cara Jitu Hentikan Sariawan

Jangan sepelekan sariawan. Gangguan ini menimbulkan nyeri, sehingga biasa membuat penderitanya enggan makan. Namun, ada cara alami untuk mengatasinya, yakni sisik naga. Tanaman ini juga berkhasiat sebagai antiradang, analgesik, hemostatis, dan antitusif.


Astra (33), karyawan sebuah bank di bilangan Jakarta Selatan, kerap mengalami sariawan, terutama bila tengah stres. Berbagai obat sudah dicoba, meski sariawan tetap saja mendera.

Untunglah, pria yang hobi baca ini menemukan buku karangan Dr. Setiawan Dalimartha di Toko Buku Gramedia, yang memuat pemakaian sisik naga untuk obat antisariawan.

Sesuai petunjuk di buku tersebut, Astra mencuci segenggam daun sisik naga hingga bersih. Bahan tersebut kemudian direbusnya dengan 2 gelas air selama 15 menit. Selagi hangat, air hasil rebusan itu digunakan untuk berkumur tiap pagi dan malam selama 2 hari. Hasilnya, sariawannya hilang!

Secara umum, sariawan adalah penyakit berupa luka di mulut. Menurut Dr. Setiawan Dalimartha, Ketua II Perhimpunan Dokter Indonesia Pengembang Kesehatan Tradisional Timur (PDPKT), ada beberapa penyakit yang menyebabkan luka pada rongga mulut.


Sariawan gusi (ginggivostomatitis plaut Vincent) adalah salah satu jenis penyakit rongga mulut yang disebabkan kuman Bacillus ficiformis dan Borellia vincenti. Keberadaan kuman ini dapat menyebabkan seluruh gusi meradang. Batas antara gusi dengan pipi akan penuh dengan bintik berupa luka kecil sebesar kepala jarum pentul dan secara makroskopik tampak sebagai garis putih.

Sariawan aftosa (stomatitis aftosa), berupa luka dangkal dengan permukaan berwarna putih. Dimulai dari gelembung yang kemudian pecah meninggalkan suatu luka yang dangkal. Luka ini menimbulkan nyeri hebat meski tak disertai demam.

Penyebab Tak Jelas
Penyebab sariawan tak jelas. Namun, kata Dr. Setiawan, beberapa bukti faktor penyebab antara lain kurangnya vitamin C dalam darah, trauma, alergi terhadap cabai, nanas, atau gangguan hormonal, semisal sewaktu haid atau stres.

Sariawan menyebabkan rasa nyeri pada mulut dan akan bertambah parah bila daerah sekitarnya tertarik karena pergerakan sewaktu mengunyah makanan. Sariawan memang akan sembuh sendiri dalam waktu kurang dari 4 minggu, tetapi cenderung akan berulang. Untuk menghindarinya, disarankan menjauhi faktor penyebab, semisal makanan pencetus alergi.

Ada banyak herbal yang dapat digunakan untuk mengatasi gangguan luka di sekitar mulut itu, salah satunya sisik naga. Sisik naga dalam pengobatan tradisional Cina, sifatnya manis, sedikit pahit, dan dingin. Tanaman ini epifit atau menumpang pada pohon lain, tetapi bukan tergolong tanaman parasit karena dapat membuat makanan sendiri.

Tanaman bernama Latin Drymoglossum piloselloides ini merupakan tanaman Asia tropis. Biasa tumbuh liar di hutan, ladang, dan tempat lainnya pada daerah yang agak lembab mulai dari dataran rendah hingga ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut.

Tanaman bernama daerah picisan (Sumatera), pakis duwitan (Jawa) ini tumbuh di batang dan dahan pohon. Akar rimpangnya panjang, kecil, merayap, bersisik, panjang 5-22 cm, melekat kuat.

Daun yang satu dengan yang lainnya tumbuh dengan jarak pendek. Bertangkai pendek, tebal berdaging, berbentuk jorong atau jorong memanjang, ujung tumpul atau membundar, pangkal runcing, tepi rata, permukaan daun tua gundul dan berambut jarang pada permukaan bawah, berwarna hijau sampai kecokelatan. Ukuran daun yang berbentuk bulat sampai jorong hampir sama dengan uang logam picisan, sehingga dinamakan picisan.

Mengandung Asiri
Tanaman bernama Cina Bao Shu Lian ini khasiatnya sebagai antiradang, penghilang nyeri (analgesik), pembersih darah, penghenti perdarahan (hemostatis), memperkuat paru-paru, dan sebagai obat batuk (antitusif). Sisik naga juga mengandung minyak atsiri, sterol atau triterpen, fenol, flavonoid, tanin, dan gula.

Hasil penelitian yang dilakukan L. Nuraini Susilowati di Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada tahun 1988, ekstrak alkohol daun sisik naga mempunyai aktivitas menghambat pertumbuhan Escherichia coli. Sementara ekstrak alkohol dan ekstrak airnya menghambat pertumbuhan Sreptococcus aerous.

Bagian yang digunakan untuk pengobatan adalah daun dan seluruh herba segar yang telah dikeringkan. Untuk obat minum, rebus 15-60 gram daun, lalu air rebusannya diminum. Untuk pemakaian luar, gunakan air rebusan herba segar buat mencuci kudis, koreng, atau obat kumur bagi yang menderita sariawan atau radang gusi, seperti yang dilakukan Astra.

Cara penggunaan lainnya, giling herba segar hingga halus. Setelah itu bubuhkan ke tempat yang sakit, terutama untuk kudis, kurap, radang kulit bernanah, radang kuku, atau luka berdarah.

Daun tanaman yang diperbanyak dengan spora dan pemisahan akar ini dapat digunakan untuk pengobatan gondong (parotitis), TBC kulit dengan pembesaran kelenjar getah bening (skrofuloderma), sakit kuning (jaundice), sukar buang air besar (sembelit), disentri, kencing nanah, batuk, abses paru-paru disertai batuk darah, mimisan, berak darah, muntah darah, rematik, keputihan (leukore), dan kanker payudara.

 Sumber : GHS , Kompas,Kamis, 10 Januari 2008

Daun Sukun Pelindung Jantung

Sukun, yang dalam bahasa Inggris disebut bread fruit, buahnya lebih banyak dikenal sebagai penganan yang digoreng atau dijadikan tepung sukun yang bisa dioleh menjadi mi atau roti. Padahal, tanaman sukun (Artocarpus altilis) sangat potensial untuk dikembangkan menjadi obat pencegah penyakit jantung.

Secara tradisional, daun sukun telah dipakai untuk mengobati penyakit hati, inflamasi, jantung, dan ginjal. Sementara itu, di Taiwan, akar dan batang tanaman sukun dimanfaatkan untuk menyembuhkan sirosis (kanker hati).

Upaya penelitian dan pengembangan sukun sebagai obat telah dilakukan oleh Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Sebelumnya, sukun lebih banyak diteliti untuk penyakit diabetes. Baru pada tahun 2004 sukun mulai dilirik untuk penyakit kardiovaskular.

"Sukun memiliki flavonoid yang khas," kata Dr Tjandrawati Mozef, peneliti dari LIPI yang giat meneliti sukun untuk kesehatan jantung dan pembuluh darah.

Tjandra menjelaskan, uji khasiat terhadap ekstrak daun sukun menunjukkan efek penurunan kadar kolesterol darah dan akumulasi lemak pada dinding pembuluh darah aorta pada mencit di laboratorium. Studi in vitro juga menyimpulkan, ekstrak daun sukun efektif melindungi jantung dari serangan iskemik akut.



Uji toksisitas menunjukkan tidak ditemukannya efek samping toksik pada hewan uji, tidak memengaruhi fungsi jantung, ginjal dan hati, maupun profil hematologi.

"Kita tinggal melakukan uji klinis untuk pengembangan obat baru. Bila ini berhasil, diharapkan akan dihasilkan obat pencegah penyakit kardiovaskular yang lebih murah dan terjangkau masyarakat," kata Tjandrawati ketika menyampaikan penelitiannya dalam acara seminar yang diadakan Badan Litbang Kementerian Kesehatan di Jakarta.

sumber : Kompas, Kamis, 15 April 2010

Sukun bagi Pembuluh Darah


Sukun sudah lama dikenal di tengah masyarakat Indonesia. Buahnya biasa digoreng dibuat keripik, atau direbus sebagai makanan kecil. Namun, ternyata tanaman yang tumbuh di sekitar kita tersebut mempunyai khasiat ampuh bagi kesehatan, terutama bagi jantung dan pembuluh darah.
Peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Tjandrawati M Ozef, dan rekan-rekannya telah mengadakan serangkaian penelitian mengenai khasiat daun sukun. Hasil penelitian itu disampaikan Tjandrawati dalam sebuah seminar di Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan beberapa waktu lalu.

Penyakit jantung dan pembuluh darah kian menjadi permasalahan besar seiring dengan perubahan gaya hidup masyarakat. Pola diet tinggi lemak hewani kurangnya aktivitas fisik dan kebiasaan buruk merokok menjadi beberapa faktor risiko pemicu gangguan jantung dan pembuluh darah.

Melihat kecenderungan tersebut, para peneliti LIPI menapis 42 tanaman yang dianggap berpengaruh terhadap sistem kardiovaskular. Pilihan meneliti lebih dalam jauh kepada sukun.

Seluruh bagian tanaman sukun mengandung senyawa flavonoid. Sejumlah turunan flavon telah berhasil diisolasi dan diidentifikasi dari bagian akar dan ranting tumbuhan tersebut sebelumnya. ”Tanaman itu mempunyai flavonoid yang khas,” ujarnya.

Sukun (Artocarpus altilis) termasuk dalam famili Moraceae alias keluarga Mulberry atau lebih sering dikenal sebagai bread fruit.

Tanaman tersebut tumbuh pada daerah tropis, seperti Indonesia, Thailand, Vietnam, dan Kamboja. Tjandrawati mengungkapkan, masyarakat Indonesia secara tradisional menggunakan daun sukun untuk pengobatan penyakit hati, inflamasi, jantung, ginjal, sakit gigi, dan gatal-gatal.

Masyarakat Taiwan secara tradisional menggunakan akar dan batangnya bagi pengobatan penyakit hati dan hipertensi. ”Masyarakat menggunakan sukun untuk pengobatan dengan merebus daunnya, tetapi masih kurang diketahui kandungan khusus yang bermanfaat besar, bagaimana cara penggunaannya, dan dosisnya,” ujarnya.

Berangkat dari pengalaman empiris masyarakat tersebut, Tjandrawati tertarik meneliti lebih dalam mengenai potensi daun sukun. Melalui penelitian panjang sejak tahun 2004, tanaman sukun berhasil dibuktikan khasiatnya. Dalam penelitian itu, daun sukun dibuat menjadi ekstrak. Komponen hasil ekstraksi dengan etanol, yakni tiga senyawa flavonoid dan Beta-sitoserol tersebut yang kemudian diteliti khasiatnya.

Studi khasiat terhadap daun sukun meliputi agregasi platelet (penggumpalan trombosit), viskositas darah (kekentalan darah) dan iskemia akut (kurangnya aliran darah pada jantung).

Studi itu juga mencakup atherosclerosis (penebalan dinding pembuluh darah akibat penumpukan lemak) yang mencakup akumulasi lipid (lemak) pada aorta, dan kolesterol darah.

Uji khasiat secara in vitro (dalam lingkungan buatan) maupun in vivo (dalam tubuh hidup) terhadap ekstrak tanaman tersebut menunjukkan hasil sangat baik.

Studi in vivo, misalnya, menyimpulkan bahwa ekstrak etil asetat yang mengandung flavonoid dan Beta-sitoserol dengan perbandingan 100 mg/kg dan 20 mg/kg dapat menghambat agresi platelet, mengurangi viskositas darah, dan melindungi melindungi jantung dari iskemia yang akut.

Selanjutnya, uji khasiat ekstrak etil asetat terhadap kadar kolesterol darah dan akumulasi lemak pada dinding pembuluh darah aorta pada tikus galur Wistar menunjukkan bahwa ekstrak etil asetat dosis 150 mg/ kg berat badan mampu menurunkan kadar kolesterol dalam darah secara signifikan.

Sukun juga mampu menghambat akumulasi lemak pada dinding pembuluh darah aorta. ”Tidak terjadi penimbunan lemak,” ujar Tjandrawati.

Daya racun

Dalam penelitian itu diuji pula daya racun dari ekstrak daun sukun tersebut. Kabar baiknya, uji toksisitas subkronis yang dilakukan selama 90 hari pada tikus putih galur Sprague Dawley menyimpulkan bahwa pemberian ekstrak etil asetat daun sukun dengan dosis bervariasi, yakni dosis uji 83,33 mg/kg berat badan per hari, 166,65 mg/kg berat badan per hari, dan 333,35 mg/kg berat badan per hari tidak memengaruhi fungsi jantung, ginjal, hati ataupun profil darah.

Uji toksisitas akut pada mencit ICR jantan dan betina menggunakan dosis tinggi total flavonoid 4,5 g/kg berat badan dan Beta-sitoserol 2,5 g/kg berat badan tidak menunjukkan penurunan berat badan, bahkan berat badan cenderung naik. Observasi terhadap perilaku hewan uji selama eksperimen seperti bagaimana hewan uji berjalan, makan, minum serta dan kecerahan mata dan bulu juga tidak menunjukkan tanda-tanda keracunan.

Tjandrawati mengatakan, dapat disimpulkan bahwa pemberian dosis tinggi total flavonoid dan Beta-sitoserol pada mencit ICR tidak menunjukkan efek toksik ada hewan uji.

Kepala Pusat Penelitian Kimia LIPI, Sugeng Broto mengatakan, prospek dari formula yang dikerjakan oleh LIPI tersebut sangat besar lantaran nantinya dapat diproduksi sebagai obat herbal terstandar dan fitofarmaka.

Kini, LIPI aktif meneliti sejumlah tanaman yang dipandang berkhasiat. Jika ingin dikembangkan menjadi fitofarmaka, masih dibutuhkan uji klinis. Ekstrak flavonoid dan Beta-sitoserol dari daun sukun itu sendiri kini telah dipatenkan.

  Sumber : Kompas Cetak, Kompas, Selasa, 11 Mei 2010

Sup Jamu Sehat Kala Imlek

MASYARAKAT CHINA sering menyertakan herbal dalam sup sehingga disebut sup jamu. Kadang tanaman obat juga dicampurkan ke dalam congee atau bubur encer. Sup jamu it. biasanya dihidangkan seminggu sekali di meja makan. Bahkan, ada yang rutin menghidangkan sebagai pelengkap makan siang.
Bahan tanaman obat (herbal) yang dipakai disesuaikan dengan musim, cuaca, dan kebutuhan anggota keluarga. Menurut Dr. Rachmat, TCM, sup biasanya dibuat dengan memanfaatkan berbagai sisa makanan seperti tulang, cangkang telur, atau potongan sayuran.

Memasak jamu-jamuan China cukup sederhana. Contohnya, lycii berry dapat digunakan untuk menggantikan kismis saat membuat sereal panas. Beberapa batang astragalus biasa ditambahkan ke dalam periuk nasi.

“Kaldu sup yang bergizi tinggi dapat dibuat dari ramuan jamu khusus. Astragalus, jujube dates, ubi jalar cina, lycii berry, biji teratai, dan serbuk sari lili biasa dimanfaatkan untuk membuat sup,” papar dokter Traditional Chinese Medicine lulusan Universitas Shanghai, China ini.

Sangat Mudah
Sebenarnya mudah menyiapkan semangkuk sup jamu di meja makan. Saat memasak, dituturkan Dr. Rachmat, siapkan kaldu sup terlebih dahulu. Masak cangkang telur dan tulang ayam atau tulang sapi dalam sepanci air menggunakan api kecil. Tambahkan cuka secukupnya. Cuka untuk menarik kalsium yang terdapat dalam cangkang telur atau tulang. Selain tulang, Anda juga bisa memakai buntut sapi, tulang iga, atau dagingnya.

Setelah panas, sayuran dan tanaman obat bisa langsung dimasukkan ke dalam panci. Masak bersama-sama hingga mendidih. Campuran yang dihasilkan disaring, daging atau tulangnya dapat dimasukkan kembali bersama tanaman obat lainnya bila diinginkan. Sebagai penyedap atau untuk menetralkan rasa yang aneh dari tanaman obat, Anda bisa menambahkan satu atau dua sendok teh miso (pasta kacang kedelai).

Kata dokter yang berpraktik di Klinik Shanghai, Jakarta Pusat ini, resep dasar sup untuk 4 porsi adalah: 3,5 liter air ditambah 1 cangkir beras, 1 cangkir miju-miju atau 8 ons daging, 2 cangkir sayuran, 2 ons tanaman obat yang diperlukan, dan 1 sendok teh cuka bila menggunakan tulang.

Bila menggunakan tulang, buatlah kaldu dari tulang, potongan sayur, cangkang telur, dan cuka lalu dididihkan dengan api kecil selama 3 jam. Tambahkan jamu dan masak campuran yang dihasilkan selama 30 menit lagi. Saring kaldu tersebut dan masak kembali daging dan jamu-jamuan yang bisa dimakan. Tambahkan nasi dan sayuran, lalu didihkan selama 30 sampai 45 menit.

Jika hanya menggunakan tanaman obat, didihkan perlahan-lahan ramuan tersebut, potongan sayur atau cangkang telur (bila menggunakan cangkang telur tambahkan cuka) selama 30 menit. Saring campuran yang dihasilkan, tambahkan bahan-bahan ramuan tanaman obat yang bisa dimakan. Didihkan selama 45 menit. Untuk membuat hidangan yang lengkap, tambahkan nasi dan sayuran ke dalam resep-resep sup dasar ini.

Di mana kita bisa membeli bahan-bahan untuk sup jamu ini? Pergilah ke sinse terdekat di kota Anda, atau di Klinik Shanghai tempat Dr. Rahmat berpraktik.

Tujuh Resep Sup Jamu Atasi Gangguan Kesehatan
Berikut ini beberapa resep sup jamu yang ditawarkan Dr. Rachmat untuk menjaga kesehatan organ tubuh.

1. Sup Biji Bunga Teratai, Bunga Lili, dan Daging (untuk 4 porsi)
Bahan:
8 pon daging tanpa lemak
0,75 ons biji bunga teratai
1 ons umbi bunga lili
3,5 liter air

Cara membuat:  
Rebus daging tanpa lemak selama dua jam. Tambahkan tanaman obat, beras, dan sayuran (jika suka). Masak campuran itu selama 45 menit. Jamu-jamuan tersebut dapat dimakan dengan sup. Resep ini memperkuat pencernaan dan ginjal, memperkuat kestabilan mental dan menyembuhkan batuk kering, tuberkulosis, neurasthenia (kelemahan, konsentrasi berkurang), diare, keluarnya air mani, mimpi basah, dan darah menstruasi yang berlebihan.

2. Sup Ubi Jalar dan Lycii Berry (untuk 4 orang)
Bahan:
0,5 pon daging tanpa lemak (idealnya daging sapi)
1 ons ubi jalar cina
1 ons lycii berry
3,5 liter air

Cara membuat:
Masak ubi jalar cina dan lycii berry dengan daging, tambahkan padi-padian serta sayuran bila diinginkan.  Sup ini memperkuat pencernaan, paru-paru, hati, dan ginjal. Sup ini juga menyembuhkan kencing manis dan memperkuat penglihatan.

3. Sup Loranthus dan Telur (untuk 1 orang)
Bahan:
2 butir telur
1 ons loranthus

Cara membuat:
Seduh teh loranthus dengan 12 ons air kemudian saring. Pecahkan telur ke dalam teh dan didihkan dengan cepat. Makan telur dan minum tehnya. Sup ini baik untuk mencegah gangguan hati dan ginjal, keguguran, rematik, sakit punggung, mati rasa pada bagian tubuh, kencing manis, tekanan darah tinggi yang diakibatkan arterosklerosis (penyempitan pembuluh darah), dan sakit punggung pada wanita hamil. Sup ini juga dapat menambah air susu ibu, mencegah penyakit, menyehatkan kulit dan rambut, serta memperkuat gigi.

4. Sup Ginjal dengan Eucommia (untuk 2 orang)
Bahan:
4 ginjal sapi
1 ons eucommia

Cara membuat:
Buatlah teh eucommia dalam dua cangkir air. Saring daunnya dan tambahkan ginjal dan bumbu-bumbu lain sampai menjadi sup. Rebus campuran yang dihasilkan sampai ginjal matang. Sup ini menyembuhkan sakit punggung, menurunkan tekanan darah dan kolesterol serta mencegah keguguran selama pertengahan kehamilan. Sup ini memperkuat ginjal, hati, urat, dan tulang.

5. Sup Ayam dengan He Shou (untuk 4 orang)
Bahan:
1 ons he shou wu
1 ekor ayam kecil

Cara membuat:
Buang bagian dalam ayam. Haluskan he shou wu sampai menjadi bubuk dengan penghancur kacang atau gunakan blender. Bungkus bubuk tersebut dengan beberapa lembar kain kasa. Masukkan bungkusan ke dalam ayam dan rebus dalam air sampai dagingnya terlepas dari tulangnya. Pisahkan bungkus bubuk jamu dan tulangnya. Tambahkan garam, minyak goreng, jahe, anggur (untuk memberi rasa) secukupnya. Minum kuahnya dan makan ayamnya. Sup ini menyehatkan darah dan memperkuat ginjal. Sup ini juga efektif mengatasi masalah saluran kencing dan anus, serta mempertahankan warna dan kemilau rambut.

6. Sup Jantung (untuk 4 orang)
Bahan:
8 cangkir air
0,50 ons jamur reishi
0,75 ons logan berry
6 biji jujube berbintik
0,50 ons umbi bunga lili
0,50 ons biji bunga teratai
0,25 ons carthamus
8 ons daging domba
0,50 cangkir jagung mentah
0,25 wheat berry
1 buah terung kecil
0,50 cangkir bit
0,50 cangkir wortel
0,50 cangkir sayuran hijau (collard, kangkung, atau mostar)
Garam dan biji wijen
1 sendok teh minyak wijen panggang

Cara membuat:
Masak wheat berry dengan enam cangkir air selama satu jam. Masak jamur reishi (dalam panci terpisah) dengan dua cangkir air selama 45 menit. Tambahkan carthamus dan didihkan pelan-pelan selama 15 menit. Saring teh reishi dan carthamus dan pisahkan jamu-jamuannya. Tambahkan teh, daging domba, jagung, dan jamu-jamuan sisanya ke dalam campuran wheat berry dan air, lalu masak selama 30 menit. Tambahkan potongan sayuran dan jagung lalu masak campuran yang dihasilkan selama 15 menit berikutnya. Jamu-jamuan itu dapat diminum dengan supnya. Sup ini menyehatkan jantung, melancarkan peredaran darah, menenangkan jiwa, menjernihkan pikiran, membuat tidur nyenyak, dan menurunkan tekanan darah tinggi.

7. Sup Dang Gui dan Domba (untuk 4 orang)
Bahan:
1 ons dang gui
0,5 pon daging domba
Irisan jahe (untuk penyedap rasa)

Cara membuat:
Masak daging domba dan dang gui bersama-sama sampai dagingnya lunak. Tambahkan irisan jahe 15 menit kemudian. Dang gui memiliki rasa pahit, keluarkan sebelum memakan supnya. Sup ini baik untuk menghangatkan tubuh, menambah darah dan tenaga, memperkuat pencernaan, mengobati sakit sewaktu menstruasi, dan menambah gizi. Secara tradisonal, kaum wanita Cina mengonsumsi sup ini selama 3 hari setelah siklus menstruasi dan setelah melahirkan. Wanita yang baru mengalami perdarahan dapat minum sup ini secara teratur sekali sebulan.

Sumber : Gaya Hidup Sehat, Kompas,Rabu, 6 Februari 2008

Tanduk Rusa, Bikin Greng?



ANDA mungkin tahu rusa Rudolph yang terkenal karena hidungnya yang berwarna merah dan dikenal sebagai salah satu rusa yang digunakan Sinterklas sebagai salah satu penarik keretanya saat membagikan hadiah untuk anak-anak di malam natal.

Namun, kali ini kita tidak ingin bicara soal rusanya, melainkan tanduk beludrunya. Dalam ilmu pengobatan tradisional China (Traditional Chinese Medicine- TCM), kandungan yang terdapat dalam tanduk rusa dapat menjadi tonik energi, menghangatkan dan membuat jantung serta sistem pembuluh darah sehat.

Tanduk rusa dan kadang-kadang jenis usa besar yang disebut elk “Sering digunakan untuk meningkatkan  jumlah darah, khususnya dalam menangani kasus anemia yang muncul akibat kemoterapi,” jelas praktisi TCM, David Scrimgeour, Lac. “Tanduk rusa beludru ini pertumbuhannya begitu cepat, karena itu dipercayai bahwa bahan ini juga dapat meningkatkan pertumbuhan sel darah merah.'

Menurut para ilmuwan, komponen yang terdapat dalam tanduk, monoacetyldiglycerides dikatakan dapat merangsang produksi sumsum tulang dan sel-sel darah merah. Dalam penelitian hewan, suplemen tanduk rusa membuktikan kemampuannya meningkatkan kekuatan otot jantung, menstabilkan ritme jantug dan mengatur tekanan darah.

Riset beberapa tahun lalu juga menunjukkan, tanduk rusa ternyata juga dapat digunakan untuk merawat osteoporosis (pengeroposan tulang). Mungkin ini akibat kandungan glucosamine, chondroitin, dan kolagen yang begitu tinggi.

Sebuah penelitian yang berlangsung tahun 2004 dan terpublikasi di Canadian veterinary Journal menunjukkan bahwa saat seekor anjing menderita osteoartritis mengonsumsi bubuk tanduk rusa besar, kemampuan berjalan, vitalits dan performanya membaik dari hari ke hari. Para ilmuwan kemudian menyimpulkan bahwa tanduk rusa “ efektif dalam mengatasi masalah artritis pada anjing.”

Secara tradisional, penggunaan tanduk rusa memang jarang dimaksudkan untuk nyeri lutut gangguan pada sel darah merah. Namun kerapkali ditujukan untuk meningkatkan fungsi seksual atau kekuatan tubuh secara keseluruhan, kemampuan erobik, meski dalam penelitian pada manusia belum terbukti hal ini.

Tanuk rusa biasanya diambil dari rusa yang diternakkan sebelum tanduk ini mengeras di akhir musim panas, yang biasanya bakal terbungkus beludru lunak berbulu. Para praktisi kesehatan mengatakan, saat inilah tanduk rusa berada dalam kondisi paling baik untuk diambil. Setelah dipati rasa atau anestesi, tanduk barulah diambil atau dipotong. Rusa tak akan merasakan sakit dan tanduk akan tumbuh lagi, satu setengah inchi setiap hari, lebih cepat dibanding organ-organ lain.

New Zealand, Australia, dan Kanada memproduksi banyak suplemen tanduk rusa yang dibuat dalam betuk cairan, bubuk atau pil. Dosis umum antara 3 hingga 9 gram setiap hari. Bila Anda membeli bubuk tanduk rusa, bisa dicampur dengan air mendidih atau diseduh untuk teh. Jangan tambahkan bahan-bahan lain sampai air mendidih.


Sumber : Alternative Medicine, Kompas,Selasa, 6 Mei 2008

Tanduk Rusa Jaga Stamina Pria

Dibandingkan dengan wanita, ternyata stamina pria lebih rentan dimakan usia. Buktinya, banyak masalah terjadi seiring bertambahnya umur. Dari mulai vitalitas yang tergerus hingga beragam gangguan kesehatan yang membuat pria loyo. Selain pilihan hidup sehat, suplementasi ekstrak tanduk rusa bisa jadi solusinya.

Dibutuhkan kesadaran lebih untuk mempertahankan stamina pria dalam kualitas yang tetap terjaga. Apalagi ada beberapa faktor yang membuat kehidupan pria pada umumnya lebih rentan terhadap penyakit yang tidak langsung dapat memengaruhi vitalitas, kebugaran, serta stamina.

Beberapa  keluhan yang sering dirasakan kaum pria adalah stamina menurun, kehilangan gairah seksual dan sering mengalami problema seksual seperti disfungsi ereksi dan ejakulasi dini, infertilitas, serta gangguan buang air kecil.

Timbulnya masa!ah-masa!ah tersebut tentu mengganggu performa dan menurunkan kualitas hidup pria. Bagi pria produktif kesehatan seksual merupakan hal vital. Gangguan seksual dapat secara langsung berdampak pada kualitas hidup, rasa percaya diri, dan hubungan dengan pasangan.

Perlu pasokan
Pola makan sehat seimbang tentu menjadi pilihan utama untuk mendapatkan kualitas stamina. Asupan karbohidrat, lemak, dan protein merupakan sumber energi, sedangkan vitamin dan mineral berperan sebagai katalisator yang dibutuhkan dalam proses metabolisme tubuh.

Vitamin dan mineral merupakan senyawa esensial yang tidak dapat diproduksi tubuh, sehingga harus dipasok dari makanan atau suplemen.

Tubuh akan tetap sehat jika selalu mendapatkan asupan gizi yang lengkap dan berkualitas. Masalahnya makanan yang kita konsumsi telah mengalami penurunan kualitas selama proses
penyimpanan, pengawetan, dan pengolahan.

Kebiasaan yang kurang baik seperti merokok, minum alkohol, makan tidak teratur, masalah pencernaan, polusi udara, stres, serta penggunaan obat-obatan akan merusak dan mengurangi jumlah vitamin dan mineral di dalam tubuh, sehingga akan berdampak buruk pada kesehatan.

Faktor-faktor di atas menyebabkan kurang gizi dan akan memengaruhi stamina pria. Untuk itulah suplementasi dibutuhkan guna membantu tubuh tetap prima. Saat ini di pasaran tersedia banyak pilihan. Salah satunya suplementasi khusus untuk menjaga stamina pria yang dibuat dari bahan alami, tanduk rusa.

Sudah sejak lama tanduk rusa atau deer velvet telah digunakan bersama herbal lain seperti ginseng sebagai tonikum. Dalam pengobatan tradisional Cina, tanduk rusa digunakan untuk mengharmonisasikan energi yin dan yang.

Hal ini akan menyeimbangkan hormon yang diperlukan untuk meningkatkan stamina, vitalitas, serta mengembalikan energi yang hilang akibat stres serta kelelahan.

Allison David (1999) dalam bukunya, Velvet Antler (Nature's Superior Tonic), menunjukkan bahwa dalam percobaan awal pada tikus, deer velvet menunjukkan peningkatan hormon testosteron dan estrogen yang sangat berperan dalam fungsi seksual pria maupun wanita.

Tonik kaisar
Studi lain dari Betty Kamen (2003) yang ditulis dalam bukunya, The Remarkable Healing Power Velvet Antler, menyatakan bahwa penggunaan rutin ekstrak deer velvet dapat meningkatkan kadar testosteron yang berpengaruh pada peningkatan vitalitas, stamina, daya tahun, libido, ereksi, dan mengatasi disfungsi ereksi.

Deer velvet bersifat adaptogen yang cenderung memperbaiki kondisi tubuh yang kurang seimbang. Dalam Traditional Chinese Medicine (TCM), energi atau kondisi tubuh yang seimbang adalah kunci utama kesehatan termasuk kesehatan seksual.

Deer velvet juga sudah dikenal luas untuk mengatasi impotensi, khususnya di Cina. Dr. Shi Zhi Chou, spesialis pengobatan problema seksual pria dari Dalian Traditional Chinese Medicine Hospital, mempunyai daftar 300 formula "the most effective prescription for impotence" (resep paling efektif untuk mengatasi impotensi). Deer velvet ada dalam daftar di hampir semua formula.

Di Cina, manfaat tanduk rusa sebagai suplemen telah diketahui lebih dari 2.000 tahun, dan merupakan bagian dari Chinese Medical Pharmacopoeia. Bahkan, di masa kekaisaran, tanduk rusa disebut "Tonik Kaisar".

Sumber :Tabloid Gaya Hidup Sehat, Kompas, Selasa, 27 Oktober 2009